talking, laughing, posting, sharing …

Dia pegolf berdarah Indonesia pertama yang berkesempatan menembus level atas dunia golf profesional. Kami akan menceritakan betapa hebatnya pemuda 20 tahun ini di driving range. Di balik semua pencapaian hebatnya, dia sosok yang sangat dekat dengan keluarga.

Nama Rory Hie cukup santer terdengar di kejuaraan amatir golf antar kampus di AS, hal itu berlanjut saat ia masuk jenjang golf amatir dunia. Berada di peringkat 10 besar menjadi langganannya sejak tahun 2008 lalu. Pria yang terlahir dengan nama family Hidayat ini adalah orang berdarah asli Indonesia. Kita bisa saja tertipu oleh perawakannya yang di atas rata-rata, tinggi 180 cm dan wajah oriental akan mengesankan dia sebagai warga negara Korea atau China. “Saya masih bisa berbahasa Indonesia. Bisa bicara bilingual,” ujar Rory sambil tersenyum saat berjumpa dengan saya di Ancora Golf Institute, kawasan Damai Indah Golf BSD, Tangerang, awal April lalu.

Siapa Rory sebenarnya? Dia lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Lahir dari pasangan Tommy dan Rita Hidayat. “Dulu saat dilahirkan di RS Pertamina, bobotnya sampai 4 kg, dan Rory lahir saat usia kandungan baru delapan bulan,” kenang sang Ibu. Bakat olahraganya sejak kecil sudah terlihat, maklum sang Ayah sangat gemar berolahraga di waktu mudanya. Sang Ayah pula yang mengenalkannya pada olahraga golf. “Rory kecil senang main sepakbola. Tidak masalah bagi saya, karena saya pun dulu sempat bermain bola, tenis, renang dan sebagainya. Tapi saya lihat dia punya talent di golf, untuk itu saya serius mengarahkannya. Di Indonesia turnamen golf jarang digelar, dalam setahun mungkin hanya ada beberapa saja, apalagi untuk jenjang amatir. Setelah saya pensiun bekerja, kami sekeluarga memutuskan hijrah ke Amerika dan di sana Rory mendapatkan banyak kesempatan mengembangkan skill golfnya,” ujar sang Ayah.

Pengorbanan yang dilakukan mereka tidak sia-sia, Rory menunjukkan dirinya pantas dibanggakan dengan meraih berbagai prestasi dan mendapat beasiswa di salah satu kampus unggulan, University of Southern California (USC) yang dikenal juga sebagai sekolahnya atlet handal dari berbagai cabang olahraga. “Untuk mengikuti berbagai turnamen di Amerika Serikat, kami mengeluarkan biaya sendiri. Itu semua kami lakukan dan Rory mendapat dukungan seluruh anggota keluarga. Dia sempat menduduki peringkat dua dunia untuk level amatir dan membawa nama USC di berbagai kejuaraan dengan hasil yang memuaskan,” tambah Tommy.

Setelah dirasa cukup, Rory memutuskan untuk hijrah ke level profesional. “Saat ini saya berada di bawah Ancora Sports. Visi dan misi kami sejalan dan saya cukup senang berkenalan dengan pak Gita Wirjawan, beliau orangnya tegas, disiplin dan punya visi jauh ke depan,” ujar Rory. Hal tersebut diiyakan oleh Indri Soemardjan selaku CEO Ancora Sports. “Ancora Sports berada di bawah Ancora International, sebuah perusahaan yang dipimpin oleh pengusaha lokal, Gita Wirjawan. Ancora juga memberikan beasiswa bagi pelajar di banyak daerah di Indonesia. Sementara tujuan dibentuknya Ancora Sports saat ini memang untuk melahirkan juara-juara olahraga. Saat ini memang baru golf yang kami kembangkan, tetapi ke depan kami akan membuka lagi di olahraga tenis dan melihat kemungkinan di cabang lain. Nah, apa yang telah dicapai oleh Rory saat ini kami dukung sepenuhnya, bahkan kami berharap ia dapat lebih berkembang dan mengharumkan nama bangsa disetiap turnamen yang diikutinya,” ujar Indri.

Meniti karir sebagai pegolf tentu bukan hal mudah bagi Rory. Apalagi golf bukan olahraga yang “merakyat” di Indonesia. “Saya menyukai golf. Untuk itu saya akan melakukan apa saja untuk bisa berada dan menjadi yang terbaik. Saya meninggalkan kuliah karena ingin serius di golf. Akan sulit membagi konsentrasi jika saya tetap menjalankan keduanya. Keputusan ini bukan hal mudah, tapi saya mendapat kepercayaan keluarga untuk berada di sini,” ujar Rory. Dukungan keluarga itu pula yang membuat Rory merasa kuat dalam setiap aksinya di lapangan. “Kehadiran anggota keluarga khususnya orang tua di lapangan sangat besar bagi saya. Mereka yang selalu memberi semangat ketika saya bermain di bawah form ataupun memuji saat saya mendapatkan hasil yang baik. Melihat mereka, merasakan dukungan mereka serta bisa main dengan bagus rasanya sulit diungkapkan,” ujar Rory. Ia juga merasakan dukungan kedua kakaknya, Steffi dan Melissa bagi karirnya.

“Kami seperti sebuah keluarga yang sangat kompak. Kehadiran mereka dalam karir saya tidak bisa dilepaskan.” Rory’s Caddy Bukan karena nepotisme jika Tommy Hidayat, sang Ayah, kerap menemaninya di lapangan golf sebagai seorang caddy bagi Rory. “Caddy dan pegolf adalah pasangan yang saling melengkapi. Caddy yang baik punya peran bagi keberhasilan seorang pegolf. Caddy menjadi partner, memberi masukan, membaca green serta kondisi lapangan pada pegolfnya. Saya cukup mengenal karakter Rory di lapangan, terkadang kami berdebat dan saling adu argumen. Terkadang dia tidak mendengar nasehat saya, tapi itulah seni dari menjadi caddy untuk anak sendiri. Sejauh ini hubungan ayah-anak tidak pernah terganggu gara-gara hal ini. Saya justru semakin tahu apa yang diinginkan Rory di lapangan,” ujar Tommy.

Menurut sang Ayah, Rory punya karakter sebagai seorang pemenang. “Dia tidak pernah underestimate lawan, sebaliknya dia juga tidak pernah takut berhadapan dengan lawan. Dia cukup tahu menempatkan konsentrasinya. Golf butuh power dan postur tubuh ideal untuk menghasilkan pukulan maksimal, Rory tidak pernah minder berhadapan dengan lawan-lawannya yang secara fisik lebih menguntungkan. Dia yakin dengan kemampuannya sendiri dan sangat fokus dalam permainan. Saya rasa itu yang membuatnya dapat survive.” Rory’s Girl Bicara soal wanita idaman, Rory bukan tipe yang tertutup. Dengan jelas ia menggambarkan bagaimana tipe wanita yang bisa menaklukkan hatinya. “Saya menyukai wanita Asia, terutama Indonesia. Ada daya tarik tersendiri saat kita berdekatan dengan mereka.” Lalu sudahkah ada wanita yang menjadi kekasihnya saat ini? Dengan senyum simpul Rory menjawab singkat, “Belum!” Baginya, karir di golf lebih menjadi perhatiannya saat ini.

“Saya masih berambisi menjadi yang terbaik di golf. Masih banyak yang harus saya perbaiki dan kejar. Membagi konsentrasi dengan kekasih tentu sangat menyenangkan, tetapi untuk saat ini konsentrasi saya tujukan untuk golf. Ada saatnya saya punya kekasih,” ujarnya bijak.(yuk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: