talking, laughing, posting, sharing …

Si cantik ini menyukai pantai dan penikmat makanan sejati. Tidak ada diet ketat bagi petenis Nadia Petrova. Bagaimana dia menikmati kehidupannya?

Teks Yulius Kristanto    Photo : M.I. Mapassenge

===

Dalam setahun jadwal kegiatannya padat oleh rangkaian turnamen dan kejuaraan. Sosoknya juga kerap mengisi beberapa majalah sport terbitan luar negeri. Wajar, karena wajah dan posturnya yang menjulang 1.78m sangat anggun diabadikan lensa kamera. Ia juga bak dua sisi mata uang di dalam dan luar lapangan. Di dalam lapangan, ia pejuang yang gigih mematikan servis lawan dan mengejar bole kemanapun. Di luar lapangan, ia adalah wanita cantik yang seperti kebanyakan wanita lainnya, menikmati keindahan alam, pecinta seni dan menyukai makanan. Itulah gambaran singkat profil kita kali ini, petenis cantik kelahiran Rusia, Nadia Petrova. Kami bertemu di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali saat digelarnya turnamen bergengsi Tier III Commonwealth Bank Tennis Classic 2008.

Dalam suatu sesi one one interview, Saya merasakan kehangatan dan pesona dari seorang Nadia. “Hi, nice to meet you. How do you do?” sapanya ramah pada kami dengan senyum merekah di bibirnya. Segera saja kami terlibat dalam obrolan hangat dan menyenangkan bersamanya. Nadia mengawali ceritanya tenang panasnya cuaca di Bali dan bagaimana ia berusaha keras menaklukkan suhu dan kelembaban udara Pulau Dewata. “Bagi kebanyakan kami pemain Eropa, iklim dan cuaca di sini menjadi hal yang harus cepat diantisipasi. Kami dituntut untuk bisa beradaptasi dan mendapatkan performa terbaik di lapangan,” ujar Nadia yang siang itu tampak santai dengan balutan kaus dan celana pendek warna hitam.

Dalam turnamen Commonwealth Bank Tennis Classic 2008 yang berakhir medio September lalu di Nusa Dua, Nadia memang gagal mencapai gelar juara. Langkahnya dihentikan oleh Patty Schnyder di babak semifinal tunggal putri. Namun Nadia berhasil menjadi runner up di nomor ganda berpasangan dengan Marta Domachowska dari Polandia dan merebut hadiah 5.700 dollar AS. Schnyder akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Tamira Paszek di partai final. Gagal di Bali sudah pasti mengecewakan bagi Nadia. Namun ia cukup realistis untuk tidak membawa mimpinya terbang tinggi melampaui angan-angan, apalagi jajaran pemain top lain menjadi pesaingnya. “Semua pemain yang berlaga di sini pasti mengincar juara. Tapi saya tidak bisa mengatakan bagaimana kans mereka, semua punya peluang yang sama. Kami juga harus beradaptasi dengan cuaca di Bali. Disini kelembaban udaranya tinggi dan membuat permainan menjadi lebih sulit berkembang. Saya memang berlatih ekstra untuk bisa memberikan permainan terbaik di sini. Fokus pada satu pertandingan sebelum melangkah ke pertandingan berikutnya,” ujar petenis yang pernah menembus tiga besar dunia tahun 2006 lalu.

Saya melihat sendiri betapa kerasnya ia berlatih, pagi hari jam 9 sudah dilaluinya di lapangan bersama pelatih. Melatih pukulan servis, backhand dan forehand menjadi menunya sehari-hari. Cuaca Bali yang menyengat membuat sesi latihan yang terlihat ringan itu menjadi ajang mandi keringat buat Nadia. Biasanya seusai berlatih, Nadia memilih untuk beristirahat dan menikmati suasana di Bali. Pantai menjadi tempat kesukaannya sejak kecil untuk menghabiskan waktu. “Saya menyukainya. Kelak kalau saya berhenti dari tenis saya mungkin akan memilih lokasi rumah di tepi pantai, menikmati keindahannya sambil membina keluarga. Tinggal di Indonesia? Well, saya belum memikirkanya lebih jauh. Saya hanya senang menikmati pantai, tapi siapa tahu saya akan memilih Bali?” ujarnya sambil tertawa.

Ya, dia seperti juga kebanyakan wanita memang menjadi pencinta keindahan dan seni. Selama di Bali, Nadia juga menyempatkan diri untuk mengikuti berbagai kegiatan off court. Ia misalnya terlihat antusias saat mengikuti acara melepas tukik atau anak penyu di pantai Westin Resort Nusa Dua, Bali. Ia juga tampil anggun dan cantik dalam fashion show yang diikuti juga oleh Daniela Hantucova, petenis Indonesia Angelique Widjaja dan beberapa nama petenis top lainnya. Nadia mengaku mencintai hidupnya dan menikmati apa yang menjadi aktivitasnya saat ini. Untuk itulah dia mendambakan sosok pria yang dewasa dan memahami profesinya jika kelak membina hubungan spesial.

Kriteria pria yang mampu menarik perhatiannya adalah sosok pria yang menyukai olahraga. “Dia harus menyukai olahraga, karena saya suka berolahraga. Dia juga bisa menerima dan bukan tipe yang gampang mengeluh karena sebagian besar waktu saya dihabiskan di lapangan tenis. Intinya dia adalah orang yang sportif.” Nadia memang terlahir dari keluarga atlet, sehingga tidak heran dunia olahraga demikian mengalir kental dalam jiwanya. Ayah dan ibunya adalah mantan atlet di lapangan atletik, Nadia kecil pun segera mencicipi kerasnya olahraga sejak usia muda. Pencapainya di lapangan tenis pun terbilang menonjol, ia misalnya menjuarai tujuh gelar WTA tour di Paris tahun 2007, Linz 2005, Doha 2006, Amelia Island 2006, Charleston 2006, Berlin 2006 dan Stutgart 2006. Ia juga memperkuat tim piala Federasi Rusia selama tiga tahun berturut-turut sejak terjun ke tenis professional tahun 1999 lalu.

Food Lover

Dalam jamuan santap siang di Westin Resort Nusa Dua, Bali, Nadia tampak antusias mencicipi berbagai makanan yang disajikan. Ia terlihat bolak-balik di meja hidangan untuk kemudian sibuk mengambil beberapa menu.

Ya, Nadia memang mengaku dirinya menyukai makanan. Apalagi dirinya tidak pernah bermasalah dengan berbagai menu yang kerap dicobanya di setiap daerah yang dikunjunginya. “Saya menyukai makanan. Saya tidak pernah punya masalah untuk mencoba berbagai makanan, termasuk di Indonesia. Menarik,” ujarnya singkat. Nadia juga mengatakan dirinya tidak menerapkan diet ketat untuk menjaga postur idealnya. Dia mengatakan dengan berlatih rutin akan mampu menjaga bentuk badannya tetap ideal dan fit di lapangan. Sambil tersenyum ia membeberkan tipsnya tetap tampil bugar. “Istirahat cukup dan makan buah.”

Wow! Singkat dan rasanya sering didengar dari mulut kita. Nadia membuktikan kata-kata itu menjadikannya wanita super di lapangan, penikmat hidup dan kesenian di kesehariannya. Spasiba, Nadia! (yuk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: