talking, laughing, posting, sharing …

Kisah Si Kerbau Perkasa

Anda tahu? Pernah di suatu masa lapangan NBA dipenuhi oleh orang-orang hebat dan gagah berani. Merekalah sebuah tim di Barat kota New York yang tampil sensasional dan mengagumkan, Buffalo Braves! 

Pernahkah Anda membayangkan sebuah tim yang dikenang selamanya oleh fans mereka? Meskipun tim tersebut telah hilang, bubar atau berganti nama, namun keberanian dan skill pemainnya di lapangan akan selalu dikenang. Buffalo Braves memang bukan seperti nama sebuah tim ditelinga anak muda jaman sekarang. Demikian juga awalnya denganku. Meski lahir dan dibesarkan di Buffalo, aku hampir saja tidak mengenali nama mereka. Braves bubar tahun 1978, atau hampir setahun sebelum kelahiranku. So, kalau saja keluargaku tidak bercerita tentang para pahlawan gagah berani itu, maka selamanya aku bukan fans Braves.

Saat aku bertemu banyak orang, mereka selalu bertanya tentang Braves kepadaku. Mereka tahu aku berasal dari Buffalo. “Kau pasti fans berat Braves? Mereka hebat ya?” ujar seorang kolega bisnisku. Bayangkan, seorang yang bukan berasal dari sana saja sudah mencium harumnya nama Braves. Saat ini, Buffalo memang lebih dikenal lewat tim hokinya, Sabres. Namun kebesaran para pemain basketnya tetap diingat semua orang yang pernah singgah atau tinggal di daerah itu meski hanya sebentar.

Buffalo Braves adalah salah satu tim basket di NBA yang sensasional. Selama  delapan musim berada di Buffalo, mereka menjadi yang terkuat. Tahun 1970 mereka datang dan disambut meriah oleh warga kami. Itulah saat yang membanggakan karena memiliki tim franchise yang bermain di liga profesional. Delapan musim kami lalui dengan menakjubkan. Setelah itu tahun 1978 mereka pindah ke San Diego dan selanjutnya pindah lagi ke pantai Barat untuk kemudian menjadi cikal bakal tim Los Angeles Clippers.

Kehancuran Braves bukan karena mereka tidak mampu bersaing dengan tim lain. Tapi karena manajemen tim yang tidak bijak serta hanya memikirkan aspek bisnis semata. Mereka memilih menjual pemain bintangnya ketimbang mempertahankan The Winning Team. Jika sekarang kau melihat permainan Clippers, dengan segala hormat, The Braves akan bermain lebih bagus dari mereka. Nah, bicara kehebatan mereka tentu akan berhubungan dengan para pemainnya. Di Braves, jika kau bermain luar biasa, mencetak rataan 30 poin semusim dan mengantarkan tim masuk semifinal wilayah, kau pasti dijual!

Heran? Sama, itu yang ada di benakku. Aku mendengar kisahnya langsung dari beberapa orang yang pernah dekat dengan The Braves. Mereka bercerita bagaimana besarnya nama Buffalo dulu, bagaimana pemainnya sangat bagus dan punya kemampuan merata. Paul Snyder adalah mantan pemilik klub tersebut. Sebelum ia memutuskan menjualnya ke John Y. Brown yang akhirnya mengantarkan klub ke jurang kehancuran. “Aku mencintai The Braves. Kota Buffalo dan rakyatnya juga mencintai tim kami. Namun amat menyakitkan melihat semuanya berakhir,” ujar Paul. Wajahnya menampakkan kesedihan. Ada penyesalan di matanya dan air mukanyapun tidak lagi bersinar.

Aku juga berbicara panjang lebar dengan pelatih mereka, Dr, Jack Ramsay. Sebagai orang yang pernah berada dekat dengan tim tersebut, Jack punya banyak kenangan manis. Namun sekali lagi, di ujung ceritanya ia akan tertunduk sedih. Ada terlalu banyak hal yang menyedihkan mungkin terekam di benaknya. “Dulu akau bersama mereka. Aku berlari dan ikut berlatih dengan tim. Aku berada satu lapangan dengan pemain hebat mereka, Bob McAdoo namanya. Kenangan yang kami lewati terlalu banyak, kesuksesan yang kami raih harus dirampas karena manajemen tidak pernah memberikan waktu yang cukup. Mereka sepertinya kurang sabar.” Ia kembali tertunduk dan termenung.

Satu persatu anggota tim dijual atau memilih menerima tawaran klub lain meski bergaji lebih rendah karena situasi tim yang tidak harmonis. Antara pemilik dan pemain sudah tidak terjalin lagi komunikasi yang baik. Musim 1976-77 Braves punya trio pemain bintang, McAdoo, Dentley dan Malone. Serta ditambah seorang lincah bernama Randy Smith, membuat komposisi tim ini sangat menjanjikan. Sayang, sebelum musim berjalan, Jack Ramsay mengundurkan diri karena bentrok dengan manajemen. Ia meninggalkan anak asuhnya dan semua yang telah dibangunnya.

Tidak lama berselang, 20 pertandingan telah membuat McAdoo muak dan pindah ke klub lain. Sebelumnya, saat musim baru berjalan 2 pertandingan Malone pun dilego dengan harga obral! Tinggal Smith yang bertahan selama musim dan sebelum akhirnya menjadi saksi tenggelamnya Braves.

Di awal musim bersama Buffalo, kami memang belum bermain dengan baik. Namun bakat besar dan keberanian orang-orang itu di lapangan telah mengubah cara berpikir warga kota. Dulu kami memang lebih dikenal sebagai kotanya hoki. Kehadiran Bob Lanier dan Randy Smith membawa angin segar bagi perkembangan sejarah bola basket di sana. Kota kami pun demam basket. Lambat laun kami pun dikenal sebagai kota yang gila olahraga. 

 “Ah, luar biasa. Semuanya sangat kompak. Warga kota dan Braves saling mencintai. Seperti sebuah kegilaan yang baru saja dimulai di sana,” Snyder menceritakan bagaimana rakyat Buffalo begitu antusiasnya mendukung The Braves. Hal yang sama dirasakan mantan bintangnya Adrian Dentley. “Di kurun waktu yang singkat tersebut, kami sudah saling mencintai. Fans adalah bagian dari kami yang tidak terpisahkan,” ujarnya. Fanatisme rakyat memang menjadi sototan tersendiri waktu itu. Rakyat kota Buffalo dikenal total saat mendukung timnya dan sangat menggilai mereka. 

Snyder adalah seorang pengusaha makanan beku saat membangun Braves. Ia berkomitmen untuk membesarkan mereka dan tidak akan menyerah sampai akhirnya kolaps karena hutang. Model kepemimpinannya mirip Mark Cuban sekarang. Muda, pebisnis dan mencintai timnya. Sayang, kurang pengalaman dan tidak dingin menjalankan bisnis. Ia menyewa Dolph Schayes sebagai pelatih pertamanya. Membiarkannya bekerja di musim pertama dan memecatnya di musim berikut setelah kalah dari Seattle. Johnny McCarthy berikutnya. Diapun bernasib sama, ditendang di akhir musim kedua. Masuklah sang legenda Dr, Jack.

“Dia mau melakukan semuanya. Dia tipe orang yang berada di pinggir lapangn dan saat break telah menunggu di locker room. Ia memarahi semua orang. Aku berkata terus terang tidak suka gayanya itu. Untungnya dia mau berubah meski tidak lama,” ujar Jack. Hal itu juga dirasakan oleh Smith. Ia bahkan pernah berkata kalau dirinya mampu melakukan semua tugas Snyder. “Aku duduk di bench bersama McAdoo dan kami saling menatap saat dia berteriak-teriak seperti orang gila.”

Smith dan McAdoo adalah dua bintang saat itu. Nama kedua dianggap sebagai pemain populer yang tidak pernah mendapat penghargaan dari klubnya. Kisah hidupnya seperti pepatah “habis manis sepah dibuang”. Tidak ada jersey yang digantung, tidak ada penghargaan khusus dan tidak ada nama yang diukir dalam plat perak di lemari penghargaannya. Padahal, McAdoo termasuk pemain paling produktif yang membawa nama Braves disegani lawan. Pemain center dengan postur 2.10 m dan berat 110 kg dengan kemampuan seorang Gilbert Arenas saat ini. McAdoo juga kerap melakukan dunk dengan kekuatan dan gaya sama seperti Dwight Howard. Musim keduanya ia lalui dengan rata-rata 30 poin, 15 rebound, musim berikutnya 35 dan 14, lalu 31 dan 12. Dia jauh lebih baik dari dirk Nowitzki. Sayang, ia tidak dihargai di sana. 

McAdoo bertandem dengan Smith. Pemain yang punya determinasi seperti Latrell Sprewell, secara statistik. Braves juga punya pemberani-pemberani lain yang berbakat besar seperti Ken Charles, Ernie DiGregorio, Bob Kaufmann, John Schumate dan Lee Winfield. The Braves saat itu berada di wilayah kekuasaan para raksasa liga seperti Washington, Chicago, NY dan Boston. Tapi mereka tidak gentar. “Kami dijuluki junior. Tapi kami punya Randy yang menjadi pemain tercepat di lapangan, ada juga Ernie dengan passing briliant, kami adalah sebuah hiburan di sana,” ujar McAdoo.

Permasalahan justru muncul saat Synder menolak timnya bertanding di hari Sabtu dan Minggu. Ia malah menjual hak siarnya untuk tim hoki, Sabres. Dibeli dengan harga mahal tentu saja bagus buat seorang pengusaha sepertinya. Korbannya adalah Braves yang harus bermain di hari Jumat dan Kamis, bentrok dengan liga mahasiswa dan Snyer tetap bersikukuh dengan pikirannya. Tim mulai krisis dan ia kalang kabut. Mencari siapa saja yang mau membeli Braves membuat seluruh anggota tim berang. Ujungnya, mereka menjadi tim kenangan selamanya. Tidak pernah sampai besar. Hanya cukup besar dan dikenang fans saat ini.

Jika sekarang kalian mampir di sana, coba tanyakan pada penduduk sekitar tentang Braves. Kebanggan dalam kekecewaan tergambar jelas di mata mereka. Braves punya peluang untuk menjadi besar. Jika mereka ada, maka tidak akan ada LA Clippers. Braves mungkin akan lebih hebat. Braves mungkin akan lebih bersinar, jika saja orang seperti McAdoo, Smith dan Dentley lebih dihargai. Amin?  (yuk)

Quotation

Kami dijuluki junior. Tapi kami punya Randy yang menjadi pemain tercepat di lapangan, ada juga Ernie dengan passing briliant, kami adalah sebuah hiburan di sana” McAdoo

(artikel terjemahan ini dimuat di majalah SLAM Indonesia 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: