talking, laughing, posting, sharing …

BEYOND JAKARTA

Dua puluh tahun lalu, wajah Jakarta tidak segarang sekarang. Tidak banyak polusi, tidak macet, tingkat kriminalitas rendah dan menjadi tempat mejeng paling asyik!

Bukan ingin Jakarta centris dengan menulis judul di atas. Tapi berdasarkan rekam memori beberapa orang yang dapat dipercaya (para maniak dari tahun 80-an!) keadaan Jakarta tempo dulu memang bak etalase life style dan selalu dijadikan barometer pergaulan anak muda. Era pembaruan melanda seluruh dunia dengan kebudayaan-kebudayaan khas anak muda yang bebas, enerjik dan dinamis. Gelombang tersebut juga membawa kebiasaan baru di kalangan anak muda.

Mereka misalnya mulai berkelompok dan berkerumun duduk di pinggir jalan. Mengenakan jaket yang dibordir dengan nama kelompok atau komunitas mereka. Mengenakan atribut dandanan yang hampir sama, yang pada intinya sih mereka ingin eksis dan dilihat banyak orang. Bahasa kerennya waktu itu adalah mejeng!

Tentu saja agar acara mejeng menjadi berhasil diperlukan beberapa sarana pelengkap misalnya naik mobil kap terbuka model jip, membawa radio kaset yang besar untuk adu breakdance, setelah itu memutar musik sambil breakdance di pinggir jalan. Jakarta juga menjadi pusat membaurnya segala jenis kebudayaan dan beragam kesenian dari luar negeri yang saat itu marak. Selain tari kejang atau breakdance ada juga skateboard, sepeda BMX dan musik disko.

Restoran cepat saji seperti A&W, AHA dan minimarket Circle K juga menjadi lokasi yang rajin disambangi kaum muda. Saat itu memang belum banyak pusat perbelanjaan megah seperti sekarang apalagi konsep mal belum dikenal saat itu. Beberapa lokasi tersebut masih ada sampai sekarang meskipun telah berubah wajah dan tata ruang kotanya. Jika dulu lokasi-lokasi ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya anak muda, sekarang banyak dari lokasi ini yang menjelma menjadi kompleks perbelanjaan, gedung perkantoran atau bahkan mulai terlantar dan menunggu alih fungsi dari pemiliknya. Sambil bernostalgia, berikut beberapa tempat mejeng favorit di Jakarta yang sempat in saat itu.

Blok M-Melawai

Daerah sepanjang Melawai Plaza atau sekarang lebih dikenal dengan Jalan Melawai menjadi kawasan primadona untuk mejeng di era 80 an. Lintas Melawai yang dipopulerkan oleh Radio Prambors melambungkan nama daerah ini sebagai salah satu melting point anak-anak muda yang melek urban life style. Di sana dulu berdiri Aldiron Plaza yang juga menjadi tempat favorit setiap Sabtu dan Minggu sore untuk mejeng. Sekedar adu tongkrongan, cari-cari kecengan sampai adu dandanan paling keren.

Bioskop Megaria

Salah satu tempat nonton yang bersejarah karena gedungnya sudah berdiri sejak 1932 di zaman penjajahan Belanda dengan nama asli Bioscoop Metropole. Tahun 1960 berganti nama menjadi Megaria dan mulai menjadi semacam pusat hiburan warga kota. Di era 80 an anak-anak muda kerap memilih Megaria sebagai tempat untuk mejeng, sekedar nonton bioskop atau mami (malam mingguan) berdua pacar. Selain itu ada juga Djakarta Theater dan Garden Hall di Bulungan yang menjadi tempat nonton favorit.

Tugu Monas

Monumen kebanggaan rakyat Indonesia dan warga Ibukota ini memang telah sejak awalnya menjadi tempat berkumpul massa. Monas yang didirikan tahun 1961 memang lokasi strategis dan terletak di pusat kota. Dua puluh tahun lalu banyak anak muda yang memanfaatkan lapangan Monas sebagai tempat mejeng dan bermain skateboard. Mereka juga kerap beraksi pantomim alias seni mimik dan gerak tubuh yang sempat ngetrend dibawakan oleh Septian Dwi Cahyo.

Menteng

Tempat ini adalah kawasan real estate pertama di Jakarta yang sekaligus merupakan daerah elit peninggalan penjajah Belanda. Tahun 80-an kawasan ini semakin lekat dengan pemukiman elit dan ditingali oleh orang-orang penting seperti para duta besar dan pejabat negara. Di masa itu juga beberapa lokasi di kawasan ini menjadi ajang kumpul dan bergaul anak-anak muda. Sepanjang jalan HOS Cokroaminoto kerap menjadi ajang kongkow klub-klub mobil VW, Fiat, Toyota Hardtop dan sebagainya. Taman Kodok yang terletak di belakang eks stadion Menteng yang kini berubah menjadi Taman Menteng juga menjadi tempat favorit untuk mejeng.

Perempatan Apjay

Perempatan di sebuah jalan di daerah Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dikenal sebagai ajang kumpulnya klub-klub mobil Datsun, Citroen, Holden dan sebagainya. Nama Apjay sendiri kepanjangan dari Apotik Jaya yang hingga kini masih berdiri. Terkenal juga dengan penjual sate yang sudah sejak tahun 80-an menjadi primadona anak-anak muda yang kongkow di sana.

Parkir Timur Senayan

Tidak kehilangan gaungnya meski telah dua dasawarsa lewat dan sampai sekarang area ini kerap dijadikan lokasi nongkrong serta berkumpulnya anak-anak mobil. Dulu dijadikan tempat mejeng sekaligus adu breakdance anak-anak muda. Parkit –demikian nama tempat ini disingkat juga sempat mejadi ajang berkumpulnya komunitas skateboard dan BMX mania.

Diskotek

Bar dan diskotek di era 80-an tidak setiap hari buka, mereka umumnya hanya buka di akhir pekan. Beberapa klub dan diskotek yang cukup terkenal di Jakarta antara lain Ebony di daerah Kuningan, Stardust, Pit Stop, My Place, Musro, 2001, Mash 76 di Cipete dan Le Mirage. (yuk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: