talking, laughing, posting, sharing …

Rombongan wartawan dari Jakarta akhirnya sampai juga di Bandara Internasional Kuching, Jumat siang, pertengahan Juli 2008 lalu. Perasaan lelah langsung berganti gembira dan dipenuhi canda tawa setelah menempuh perjalanan hampir lima jam dari Cengkareng. Kami memang sempat lama transit di Potianak sebelum akhirnya melanjutkan penerbangan ke Kuching.

Simbol kota Kuching, Malaysia

Suasana yang tenang dan keramahan masyarakatnya menjadi pemandangan umum di kota Kuching, negara bagian Serawak, Malaysia. Kesan itulah yang kami rasakan saat menginjakkan kaki di sana. Selama lima hari kunjungan atas undangan Malaysia Tourism Board Jakarta untuk meliput event Rainforest Music Festival, waktu seakan berjalan lambat. Ah, Kuching memang kota yang tenang untuk disinggahi.

Kota ini cocok bagi mereka yang mencari ketenangan dan terbebas sementara dari semrawutnya lalu lintas kota-kota besar. Kota kecil yang bersih dan tertata rapi. Infrastruktur kota yang terawat baik membuat Kuching menjelma menjadi kota yang nyaman untuk melewatkan liburan. Perpaduan budaya China, Melayu, Inggris dan India terlihat dari beragam bangunan kuno yang ada di sana. Semuanya terawat dengan baik.

Istana Charles Brooke

Meski tidak seluas Jakarta, namun kebersihan dan kerapihan kota membuat kunjungan kami di sana menjadi saat yang menyenangkan dan sulit dilupakan. Diantaranya kami mengunjungi Muzium Serawak yang berada dalam satu kompleks dengan Museum Seni dan Museum Semulajadi. Gedung-gedung tua itu adalah peninggalan Raja Serawak, Charles Brooke di abad 19 lalu. Semua tertata rapih dan tampak terawat.

Museum Sejarah

Muzium Serawak berisi aneka ragam binatang khas Serawak dan berbagai macam miniatur rumah panjang dari orang-orang suku Dayak, Orang Ulu dan Bidayuh serta berbagai pernik khas kebudayaan mereka. Kami juga mengunjungi sebuah perusahaan pengolah sarang burung walet terkenal di sana. Kami berkesempatan melihat proses pembuatan berbagai macam panganan dari bahan dasar sarang burung yang banyak ditemukan di gua-gua pinggir laut tersebut. Sejak dahulu sarang burung walet memang telah menjadi konsumsi kaya protein dan berkhasiat memulihkan stamina.

Menara Observasi Kuching

Serawak juga dikenal sebagai daerah penghasil lada terbesar di Malaysia. Tidak heran di kota Kuching yang merupakan ibukota Serawak, banyak terdapat toko yang menjual lada hitam dan lada putih serta berbagai cemilan yang dibuat dari lada seperti permen lada dan manisan. Hari kedua kami lewatkan dengan mengunjungi Menara Kuching yang terletak sekitar 10 menit saja dari pusat kota. Gedung yang semula digunakan untuk observasi bintang oleh pemerintah setempat pada akhirnya beralih fungsi menjadi objek pariwisata. Dari ketingian 70 meter, pengunjung bisa menyaksikan setiap sudut kota. Menarik!

Malam harinya kami lalui dengan menyaksikan Rainforest Music Festival di Serawak Cultural Village yang terletak di kaki gunung Santubong, sekitar satu jam berkendaraan dari Kuching. Sayang pada hari pertama itu hujan deras mengguyur arena sehingga membuat banyak wartawan dari beberapa negera seperti Jepang, Indonesia, Hongkong, Filipina dan Inggris tidak bisa meliput secara maksimal dan harus berteduh di tenda panitia.

Hari ketiga, rombongan wartawan dari Jepang, Filipina dan kami dari Indonesia mengunjungi Suaka Margasatwa Semengoh, sebuah taman nasional yang berisi kumpulan flora khas Borneo dan sebuah suaka bagi hewan liar seperti kancil, ular viper, orang utan dan berbagai unggas-unggasan. Kami juga berksempatan menyaksikan para petugas memberi makan orang utan.

Hewan yang identik dengan Indonesia dan Pulau Kalimantan (Borneo) ini ternyata dirawat dengan baik di Semengoh dan menjadi primadona taman suaka tersebut. Di hari ketiga kunjungan kami, cuaca malam lebih mendukung untuk Rainforest Music Festival dan pengunjung pun membludak. Tercatat sekitar 9 ribu pengunjung yang didominasi turis Australia, Kanada, Belanda, Perancis serta AS memadati lahan seluas 4 hektar untuk menyaksikan event tersebut.

Rainforest Music Festival

Rainforest Music Festival adalah sebuah event musik yang mendatangkan berbagai artis dari seluruh dunia untuk membawakan musik tradisional mereka. Meski demikian banyak pula artis yang memadukan alat musik tradisional dengan instrument modern seperti drum, bass elektrik dan gitar. Sayang, kami harus bertolak meninggalkan Serawak dan kota Kuchingnya pada hari keempat. Sejumlah agenda padat telah menanti kami di kota Kinabalu, negara bagian Sabah di hari kunjungan kelima kami.

Kota Kinabalu pun tidak kalah unik dan bersihnya dari Kuching. Meski secara strata masyarakatnya tampak lebih beragam, sentra-sentra ekonomi seperti pasar dan perkantoran lebih banyak bertebaran di sana. Kinabalu juga lebih hidup di waktu malam, berbeda dengan Kuching yang saat malam seakan terlelap dalam ketenangan. Kunjungan pertama kami adalah ke Lok Kawi Wild Life, seperti kebun binatang mini di sana. Meski jauh lebih kecil dari Taman Safari Indonesia dan Kebun Binatang Ragunan, tapi keseriusan pengelola untuk menjaga kebersihan dan keindahannya patut diacungi jempol.

Taman Nasional Lok Kawi

Hari terakhir di Kinabalu kami lalui dengan mengunjungi Camping Ground di Gunung Kinabalu dan pemandian air panasnya, Hot Springs. Kami berkesempatan juga mencoba Skywalk atau berjalan meniti jembatan gantung sepanjang 51 meter di sana di kaki gunung Kinabalu. Jembatan itu menghubungkan pohon-pohon tua setinggi kurang lebih dua puluh meter dan berada di lereng bukit. Mencoba Skywalk memang membutuhkan keberanian tersendiri meskipun pengelola menjamin keamanan dan keselamatan para pengunjung.

Melewatkan sore akhirnya kami pilih dengan berendam di pemandian air panas. Ahh, rasa penat di kaki setelah naik turun bukit seakan terbayar lunas dengan panas air belerang yang membasahi badan. Sungguh nyaman dan menenangkan. Selama berada di Sabah dan Serawak, kami pun harus mencicipi berbagai makanan khas masyarakat setempat. Meski cita rasanya tidak jauh berbeda dengan makanan Nusantara, lidah kami cukup kesulitan mencerna rasanya. Namun ada beberapa menu yang membuat lidah kami bergoyang karena lezat antara lain EBC alias Es Batu Campur, kalau di

Es campur ala Malingsia

Indonesia kita menyebutnya Es Teler. Menu lainnya adalah Kue Tapai dengan nama Indonesia Kue Tape, kue bolu berbahan dasar tape. Ada juga Keong Kuah, sejenis siput sawah yang dimasak dengan saus tiram dan rasanya cukup nikmat. Namun memang tidak semua bisa menikmati makanan tersebut.

Seorang teman dalam rombongan kami bahkan mengaku kangen berat dengan Ayam Bakar Bulungan, Rawon dan Pecel Lele. Menu makanan Melayu memang rasanya cenderung bercampur, antara manis, gurih dan kuat dengan bumbu dan rempah dalam pengolahannya. Akhirnya, sebagian dari kami pun bersikap netral dengan menyantap seafood yang dimasak tidak jauh berbeda dengan yang banyak kita temukan di Indonesia. Hehe, jauh-jauh ke Malaysia cuma makan seafood, mendingan ke Muara Angke deh!

Perjalanan kami pun harus berakhir. Tidak terasa selama lima hari kami berpetualang singkat di Sabah dan Serawak. Kenapa singkat? Sebab pengalaman yang didapat di sana cukup menyenangkan dan sulit dilupakan. Rasanya butuh lebih lama lagi waktu untuk bisa bermalas-malasan di Kuching yang tenang atau menikmati eksotisme alam liar Kinabalu. Semoga lain waktu bisa kami ulangi lagi. (yuk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: