talking, laughing, posting, sharing …

“Gue resign man. Nyeberang haluan ke humas!,” demikian pesan singkat yang masuk ke ponsel saya dua hari lalu. Pesan itu dari seorang kawan, jurnalis yang hampir sepuluh tahun mengabdikan hidupnya di dunia media cetak dan radio di Ibukota. 

Saat berkesempatan telepon dengannya, saya mendapat alasan mengapa dia pilih menyeberang haluan ke dunia kehumasan. Ini persoalan klasik, masalah gaji yang telah lima tahun terakhir tidak ada perubahan. “Kebutuhan semakin banyak, side job kanan-kiri sudah maksimal. Gue sebenernya ogah pindah haluan, tapi apa mau dikata? Keluarga butuh penghidupan yang lebih terjamin. Meski hati nurani gue berat melangkah ke dunia kehumasan,” ujarnya singkat.

Dunia pers di Tanah Air baru saja memperingati hari bersejarah, bulan Februari lalu. Kebebasan pers diagung-agungkan di negara ini, institusi pers menjamur, peranan pers sebagai pilar keempat demokrasi pun dianggap banyak kalangan mulai menuai sukses. Di balik semua pencapaian itu, para pemilik media dan perusahaan media belumlah memperhatikan nasib para wartawan dan karyawannya. Yaaah, kalau mau disebut, paling hanya satu atau dua nama media nasional yang terbukti “layak” menggaji para kuli tintanya dengan angka yang rasional.

Dibalik tekanan deadline dan himpitan hidup, seorang jurnalis harus mampu bersikap objektif dan menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Siang atau malam, tanggal merah sampai tanggal hitam sudah tidak dirasakan lagi oleh mereka. Hujan dan panas pun sudah jadi sahabat para jurnalis. Namun kalau mereka ambruk karena sakit, boro-boro dapat tunjangan, palingan semprotan dari kantor soal kinerja yang merosot!

Sekali lagi, tidak semua memang yang bernasib demikian. Masih ada pemilik media yang berbaik hati pada jurnalisnya dengan memberikan ganti tunjangan bila yang bersangkutan sakit, istri melahirkan sampai anak masuk sekolah. Cuma itu tadi, harap dicatat, kejadian itu hanya milik satu dua nama media besar yang ada di Jakarta. Lainnya? Jurnalis bagai hidup dengan tumpukan beban berat di pundaknya. Jangankan tunjangan, uang bensin dan uang makan saja harus diperjuangkan lewat kerja sambilan kanan dan kiri. Ironis!

Sebagai pewarta kabar bagi masyarakat ramai, peran dan keberadaan wartawan memang harus eksis. Namun janganlah eksistensi mereka diikat dengan semena-mena dengan berbagai peraturan kerja yang memberatkan, gaji pas-pasan cenderung kurang, tidak boleh sakit!, dan berbagai himpitan lainnya. Wartawan dituntut kerja maksimal tanpa reward yang sepadan! Rasanya benar kalau menyebut wartawan sebagai “kuli tinta” yang terbiasa kerja kuli tanpa penghargaan yang layak dari perusahaannya.

Masih teringat ketika awal-awal mencoba kerja sebagai wartawan. “Selamat! Anda diterima bekerja di sini mulai tanggal 1 bulan depan. Gaji Anda sebesar 800 ribu, selama tiga bulan tidak boleh sakit, sabtu dan minggu serta tanggal merah tetap masuk, harus datang jam 9 pagi sampai naskah selesai sekitar jam 11 malam. Kalau Anda berhalangan maka gaji akan dipotong.” Saya hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan si pemilik media itu saat menjabat tangan saya.  

Seorang teman saya bahkan berujar soal pengalamannya saat diterima bekerja sebagai fotografer di sebuah perusahaan media jaringan besar di Jakarta. “Oke, Anda bisa bekerja di sini. Gaji Anda 800 ribu, kalau kurang minta saja dari narasumber. Kamera untuk sementara pakai punya Anda, uang transport dan makan tidak bisa kami ganti!” Sadis!!!

Belum lagi ancaman yang diterima saat menjalankan tugas jurnalistik yang kerap mengadang para kuli tinta. Aksi pemukulan, perampasan kamera, penghialngan data sampai penculikan dan penghilangan nyawa oleh oknum-oknum tidak bermoral menjadi resiko yang harus dihadapi.  Hal ini semakin menambah kompleks himpitan beban yang ditanggung jurnalis dalam menjalankan tugasnya. Kalau hal itu terjadi dan menimpa jurnalis, lantas sikap kantor bagaimana? Biasanya sih, mereka cuek bebek, menyerahkan proses sepenuhnya ke tangan hukum dan membiarkan para jurnalisnya berjuang sendirian! Inilah kenyataan yang harus diterima seorang wartawan yang memberitakan fakta dan kebenaran pada masyarakat.

Kasus terakhir yang menimpa seorang rekan jurnalis asal Bali yang meninggal secara tidak wajar menjadi sinyalemen kuat bahwasannya dunia kerja jurnalis bukanlah zona nyaman! Jurnalis menjadi ujung tombak sekaligus kambing hitam yang siap disalahkan dan ditumbalkan jika diperlukan! Masuk penjara, masuk rumah sakit dan atau berakhir di kamar jenazah mewarnai perjuangan para jurnalis untuk eksis berkarya, mewartakan fakta sekaligus menghidupi diri dan keluarganya dengan nafkah secukupnya. Wartawan oh wartawan… Nasibmu kini … (yuk)

Selamat Hari Pers 2010

Semoga dunia pers di Indonesia menjadi semakin baik dan baik dan baik …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: