talking, laughing, posting, sharing …

Berunding dengan pihak GAM, dihujani bom di Afghanistan, bertemu dengan petinggi Thaliban sampai suka dukanya hidup di daerah konflik sudah pernah dirasakan oleh dr. Yoserizal Jurnalis.

mungkin dr. yose lebih tepat disebut sebagai dokter perang

Profesinya sebagai dokter tidak serta merta membuatnya nyaman berada di ruang praktek sebuah RS yang nyaman dan sejuk ber AC. Ada satu sisi dari kepribadiannya yang terus bergerak dan mendorongnya untuk terjun langsung ke medan laga. Membantu sesama yang membutuhkan pertolongan medis tanpa pandang bulu menjadi misi hidupnya.

Penampilannya sederhana. Sorot mata tajam namun tidak membuat kita merasa kikuk saat bertatap muka dengannya. Perawakan tinggi, janggut dan kumis menjadi pelengkap wajahnya yang tenang. Sore itu kami berbincang di ruang praktek Yose di sebuah RS di daerah Pejaten. Hanya mengenakan kemeja putih dan celana jins, dokter ahli tulang ini terlihat kasual saat itu. “Maaf ya, saya tidak terbiasa memakai baju praktek. Saya sehari-hari begini saja. Kalau praktek ya begini,” ujar Yose saat ME Asia  memintanya berpose.

“Awalnya saya tergerak untuk membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban dalam kerusuhan di Tual, Maluku Tenggara bulan April 1999. Kemudian di sana saya bertemu beberapa teman dan selanjutnya kami banyak melakukan misi dan memberikan bantuan pengobatan di luar negeri. Dalam kerusuhan di Tual, saya melihat dan belajar bagaimana seorang dokter harus bersikap di daerah konflik. Profesi dokter diuji di sana. Ada banyak kejadian yang mengancam nyawa dokter namun itu tidak boleh menyurutkan niat kami dalam memberikan pertolongan medis. Siapapun, apapun latar belakangnya kami harus siap membantu,” ujar Yose membuka cerita bersama ME.

“Menolong orang di medan laga atau dalam situasi perang sangat riskan. Risiko terburuk selalu ada. Saya misalnya pernah mengobati istri salah satu petinggi GAM dengan menerbangkannya ke Medan dan lanjut di Jakarta. Itu semua atas pertimbangan medis dan kemanusiaan, bukan berarti saya pro GAM atau kontra TNI. Setelah itu saya juga meminta izin ke pejabat terkait selama pasien itu ada di Jakarta. Prinsip saya hanya satu. Pasien saya bukan orang militer dan dia tidak angkat senjata melawan RI. Suaminya yang anggota GAM, jadi jangan perlakukan istri sama dengan suaminya.”

Pengalaman tidak terlupakan saat ia terjebak dalam sebuah serangan udara di kota Khalad, dekat Kandahar, Afghanistan. Waktu itu ia bersama lima orang rekannya mencoba masuk ke Kabul, namun mereka singgah di Khalad untuk memberikan pengobatan bagi warga di sana. Menjelang tengah malam, saat semua tertidur lelap, serangan udara dari pesawat tempur AS menghujani kota dengan rudal. Yose dan rekan-rekan pasrah, mereka sadar bisa setiap saat menjadi korban rudal salah sasaran meski mereka berada di sebuah RS yang masuk zona netral.

Serangan itu berlangsung semalaman hingga pukul 5 pagi. “Untungnya kami semua selamat. Setelah terang kami melihat betapa kota itu hancur luluh lantak. Mengerikan.” Hal yang paling dasar dari pengalamannya di Afghanistan adalah beradaptasi dengan makanan lokal. “Dua kali ke Afghanistan, yang pertama itu ya harus adaptasi sama makanan mereka. Kebanyakan memasak daging domba, rasanya agak tawar dan tidak terlalu spicy. Mereka juga minum teh yang dicampur susu dan makan roti. Pokoknya kurang sreg dan bikin kita kangen masakan Indonesia. Yang dikepala itu adanya pingin makan pecel lele, nasi padang, pesmol, hahaha..”

Akhirnya saat kali kedua di Afghan, saya bawa rendang. Lumayan awet dan bisa mengobati kerinduan kami pada Indonesia. Pernah juga saya lagi di Irak, kebetulan sedang bosan dengan makanan lokal. Kami pergi ke rumah Duta Besar di Yordan, dan kebetulan si empunya rumah lagi masak Indomie, wah langsung kami serbu. Rasanya lezat banget, hahaha…”

Bertugas jauh dari Tanah Air tidak menjadi mudah bagi Yose. Ia mengaku cukup prihatin dengan kondisi Afghanistan. “Maaf ya, kehidupan penduduk mereka miskin. Rumah-rumah hanya dibangun dari tanah liat. Cuaca kering dan panas. Seperti berada di abad 18 karena hampir tidak tersentuh kemajuan jaman sama sekali. Masih enak hidup di Indonesia. Kita sungguh beruntung punya negara subur dan iklimnya bagus. Kondisi-kondisi inilah yang sering membawa saya rindu pulang ke Indonesia. Homesick.”

Daerah konflik yang minim sarana dan prasarana juga menyisakan berbagai cerita di hatinya. “Saat berada di gurun, maka air sangat berharga. Jadi kalau kita buang air besar bagaimana? Ya, pintar-pintarlah menggunakan airnya. Kebanyakan orang disana kalau BAB dibersihkan dengan batu baru setelah itu dibilas. Kotorannya hanya ditimbun saja dengan pasir. Wah, pokoknya bersyukurlah karena kita tinggal di negara yang tidak tandus dan banyak air tanahnya. Di Afganisstan juga banyak orang sakit ginjal karena mereka minum air tanah yang diberi kapur untuk menjernihkannya. Itu jelas merusak ginjal karena tidak murni air tapi dicampur pakai kapur. Coba bayangkan rasanya minum air itu?”

Menurut Yose, semua pengalamannya itu mengajarkan ia untuk bisa tetap berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam menjalankan profesinya. Hatinya tetap tergerak oleh belas kasihan saat melihat sesamanya menderita. Entah sampai kapan Yose akan terus berada di garis depan atau terjun langsung ke daerah bencana membantu sesamanya. “Saya masih punya banyak keinginan. Saya punya cita-cita pergi ke Checnya, entah kapan hal itu akan terwujud. Selain melakukan misi di sana saya ingin lebih mengetahui bagaimana karkater orang di sana kuat menghadapi penderitaan. Mereka kan konflik, rakyatnya tidak kaya, lalu nilai-nilai apa yang membuat mereka bisa melewati semuanya? Apakah rakyat Indonesia tidak bisa mencontoh keuletan mereka?” (yuk)

Comments on: "dr. Yoserizal Jurnalis — Spesialis Daerah Konflik" (3)

  1. kalo gag salah beliau baru ajah tampil di kick andy deh, ada luigi pralangga juga

  2. mus erwin said:

    semoga tetap semngat dan istiqomah u terus berbuat kepada sesama, sehingga suatu saat layak ,jadi pemimpin dunia bair nggak perang kaya ekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: