talking, laughing, posting, sharing …

Jelang kunjungan Barrack Obama ke Indonesia, saya teringat pernah membuat rangkuman tulisan mengenai pendapat teman-teman Obama sewaktu bersekolah di Indonesia tahun 70-an. Mereka bergabung dalam sebuah forum solidaritas untuk mendukung Obama maju dan terpilih sebagai presiden AS. Dukungan mereka salah satunya untuk memerangi black campaign yang dilakukan lawan politik Obama. Untuk lebih lengkapnya silahkan ikuti kisah mereka, semoga bermanfaat!

==== 

solidaritas untuk obama

Membicarakan sosok Obama membuat Rully Dasaad tersenyum mengenang masa lalunya. Ia memang menjadi temen baik Obama saat bersekolah di SD Besuki, kawasan Menteng, Jakarta Pusat di awal tahun 70-an. “Barry Soetoro! Demikian kami mengenalnya dulu, hanya saja setelah kami akrab, saya pernah mendapatinya menulis nama Obama saat ia menggambar. Saat saya tanya apa artinya, Barry menjawab itu adalah nama belakangnya. Waktu itu saya tidak terlalu peduli, sebab yang menjadi perhatian saya adalah hasil gambarnya. Barry memang paling senang menggambar tokoh superhero dan gambarnya pun bagus. Dia sering beradu siapa yang paling bagus menggambar dengan Widiyanto, teman main kami juga. Hasilnya pasti gambar Barry lebih bagus dari Widiyanto.”

“Saat pertama masuk sekolah, kelas 3 SD dia diantar oleh kedua orang tuanya. Ibunya bule dan ayahnya berseragam tentara. Guru kelas kemudian memperkenalkan kami kepada Barry, sebelumnya dia bersekolah di SD Fransiskus Asisi, Menteng Dalam. Kenangan saya, Barry adalah sosok yang menyenangkan, anaknya penurut meski kadang juga ada sifat jahilnya kepada teman, maklum deh namanya juga anak-anak. Awalnya dia banyak diam, hanya senyum-senyum saja saat disuruh. Proses adaptasinya cepat, Barry termasuk anak yang tidak bisa diam, setiap istirahat kami selalu bermain di lapangan, Main gundu, main gambaran sampai main tak gebok. Dia anaknya gak bisa diam,” kenang Rully.

Kenangan tentang aktifnya sosok Obama juga disampaikan oleh Chairiani Barkah, mantan teman di SD Besuki. “Mungkin seperti anak SD lainnya, ketika di kelas kedatangan murid baru, ataupun sebaliknya, ada murid yang pindah kelas ke sekolah lain, saya pun tidak terlalu memikirkan anak tersebut. Sama halnya dengan kehadiran Barack Obama waktu itu. Kami kan masih usia 8 – 9 tahun, dan sekelas hanya selama dua tahun, kelas 3 dan 4. Setelah itu dia pindah entah kemana. Jadi kenangannya tidak banyak dan tidak mendalam. Hanya saja yang masih bisa saya ingat, dia suka banget ngomong, walaupun dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Kegemaran dia lainnya adalah ganggu teman-temannya. Anaknya super aktif, banyak bergerak sehingga sering berkeringat.”

Dalam ingatan Rully yang sempat bersama-sama mengikuti kegiatan pramuka bersama Barry menilai saat itu jiwa kepemimpinan sahabatnya tidak terlalu menonjol. “Biasa-biasa saja. Di kelas juga dia tidak menonjol, hanya saja dia serius belajar dan rajin bertanya pada teman dan guru kalau ada hal yang tidak dipahminya. Barry orangnya terbuka untuk mencoba hal-hal baru.” Ia sempat merasa kehilangan setelah Barry tanpa kabar pindah ke AS. “Waktu itu kami usai liburan panjang kenaikan kelas. Di kelas V SD kami tidak bertemu Barry dan saling bertanya kemana dia. Kemudian guru kelas menerangkan kalau Barry sudah pindah ke Hawaii.”

Inilah teman-teman sekelas Obama di SD Besuki medio tahun 70-an

Sandra Sambuaga Mongie, mantan teman sekelasnya juga punya memori tentang Obama kecil. “Hal yang bikin saya ingat tentang dia, sewaktu di kelas, bangku saya letaknya tepat di depan bangku dia. Dia menulis menggunakan tangan kiri, dan tulisannya bagus. Dia juga pandai menggambar, dan hasilnya bagus lho! Anaknya sangat aktif, dan saking aktifnya dia sukanya mengganggu teman-teman di kelas. Mungkin dia mencari perhatian. Karena dia suka usil, saya dan teman-teman suka membalas juga dengan menarik rambut kritingnya yang kalau ditarik bisa seperti per.”

Rully awalnya mengaku tidak tahu menahu soal Obama yang berkarir politik di AS. “Tahun 2006 saya diberitahu oleh seorang teman, namanya Sonny Gondokusumo. Dia bilang ada teman SD kita yang mencalonkan diri sebagai presiden di AS. Saya belum ngeh kalau itu adalah Barry. Saya lihat fotonya di majalah dan masih belum yakin kalau itu adalah Barry, teman main SD dulu. Tapi setelah saya lihat fotonya sedang tersenyum, saya yakin itu adalah Barry! Saya mengenali senyumnya. Dulu saya sering bilang kalau gigi dia putih kayak permen Chicklet. Setelah itu saya rutin mengikuti berita-beritanya melalui media elektronik dan cetak. Kalau menonton dia berpidato di TV saya melihat Barry sekarang sebagai A Man With Wisdom. Tutur bahasanya baik dan lembut tapi juga tegas.”

Nama Barrack Obama kemudian semakin banyak diberitakan oleh media-media AS setelah secara mengejutkan popularitasnya mengalahkan Hilarry Clinton dalam persaingan menuju kursi presiden. Buntutnya, media mulai mengorek masa lalu Obama yang membawanya pada beberapa pemberitaan miring. Ada yang memberitakan Obama memiliki latar belakang Islam garis keras, pernah besar di lingkungan pesantren dan sebagainya.

“Saat mendengar hal itu hati saya seperti terketuk. Saya kemudian menghubungi teman-teman kami semasa SD dan menggalang dukungan untuk Barry. Saya tahu pemberitaan seperti itu dibuat oleh kubu oposisi yang tidak menginginkan Barry naik. Kami teman-teman SD Barry cukup tahu latar belakangnya di Indonesia. Anak usia 9 tahun tahu apa tentang kekerasan? Terorisme? Sampai paham Islam garis keras? Itu semua pemberitaan yang salah,” tukas Rully.

Tanggal 1 Maret 2008, setelah lama berembuk dan saling kontak, teman-teman satu kelas Barry di SD Besuki pun berkumpul di almamaternya. “Saat itu saya buat janji wawancara dengan wartawan Voice of America (VOA) dan NHK Jepang, tapi saat kami datang di sana ternyata sudah puluhan wartawan lokal berkumpul. Kemungkinan mereka membaca pemberitaan di salah satu media cetak nasional yang menulis kami akan berkumpul hari itu untuk memberi dukungan pada Obama. Kami menyebut hari itu sebagai Support Solidarity Action for Obama. Kami berfoto dan membuat album yang kemudian kami kirimkan ke AS akhir bulan April. Tanggal 27 Mei 2008, saya mendapat jawaban langsung dari asisten eksekutif Barry, namanya Ashley Tate Gilmore. Beliau mengatakan terima kasihnya untuk album kenangan itu. Ia juga mengatakan akan menyampaikan album itu langsung ke tangan Barry yang saat itu sedang sibuk berkampanye.” Rully menilai Obama punya kapabilitas untuk memimpin dan menduduki kursi presiden AS.

“Ini sejarah jika terjadi. Barrack Obama didukung oleh banyak kaum muda di AS. Sikapnya yang toleran banyak dipengaruhi oleh masa kecilnya di Indonesia. Ia tahu apa itu perbedaan, ia tahu karena hidup di dalamnya. Harapan saya ialah dia bisa menjembatani permasalahan yang muncul antara AS dan negara-negara muslim. Dulu Barry kan ikut baca Pancasila setiap apel pagi, belajar tentang tenggang rasa, disiplin dan berbagi bersama kami teman-temannya. Dia bisa menjadi pemimpin yang baik jika ia bisa menerapkan kebhinekaan yang didapatnya sejak kecil.”

Harapan besar buat Obama juga disampaikan oleh Sandra “Sebagai teman sewaktu SD, tentu saja bangga dengan prestasi yang diraihnya, calon orang nomor satu di AS. Saya turut berdoa, dan semoga terpilihnya dia akan membuat hubungan Amerika – Indonesia lebih baik dari yang sudah-sudah.” Ya, inilah bentuk solidaritas Anak Menteng untuk seorang Barrack Obama! (yuk)

(artikel telah dipublikasikan di majalah ME Asia September 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: