talking, laughing, posting, sharing …

Menggabungkan olahraga hockey dan sepatu roda, namun cabang yang satu ini ternyata membakar kalori lebih banyak daripada satu jam berlatih beban di gym.

==========

in line hockey aka roller hockey

Perkembangan olahraga In Line Hockey di Jakarta ternyata tetap eksis. Cabang olahraga ini memang identik dengan Hockey lapangan yang banyak dimainkan oleh para ekspatriat. Namun ternyata kota Jakarta dan Bandung mempunyai dua klub In Line Hockey yang cukup lama eksis sejak tahun 1990-an.

Awalnya, saya mengira olahraga ini masuk ke dalam asuhan Pengurus Besar Persatuan Hockey Seluruh Indonesia (PB PHSI) yang berpusat di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Namun setelah bertatap muka langsung dengan para penggila Roller Hockey mereka mengatakan bahwa cabang ini berada di bawah induk organisasi Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi). Namun, mereka pun klise mengatakan bahwa perhatian dari pengurus induk terhadap perkembangan olahraga ini sangat minim.

Bicara sejarah olahraga ini di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak medio tahun 1970-an. Perkembangannya menunjukkan grafik meningkat di era tahun 1990-an. “Kalau bicara In Line Hockey sebenarnya tidak lepas dari perkembangan demam sepatu roda di Indonesia era 1980-an. Secara peraturan dan ukuran lapangan memang tidak jauh berbeda dengan hockey lapangan hanya saja cabang ini lebih fleksibel dalam prakteknya,” ujar Odi Komala, salah seorang mantan atlet In Line Hockey.

Dalam pandangannya, kelebihan cabang olahraga ini dibanding dengan hockey lapangan adalah pergerakannya yang smooth sehingga meminimalisir cedera. “Cabang olahraga fisik tentu menggunakan seluruh anggota tubuh untuk bergerak. Benturan antar persendian tulang akibat berlari, melompat atau bersinggungan badan sangat rentan mengakibatkan cedera pada pergelangan kaki, lutut, siku sampai ke tulang belikat. Namun, gerakan dalam In Line Hockey berirama dan halus, sehingga meminimalkan cedera. Meski demikian bukan berarti olahraga ini anti cedera. Bagi pemula, latihan berlari dengan in line saja sudah bisa membuat lecet akibat terjatuh sampai patah tulang. Tapi secara keseluruhan olahraga ini gerakannya meminimalkan cedera serius,” tambah Odi.

Di Jakarta olahraga In Line Hockey pun berkembang perlahan tapi pasti. “Kendala yang mengganjal adalah minimnya lahan untuk bermain dan harga peralatan yang cukup menguras kantung. Untuk bisa mulai bermain dengan peralatan standar seperti in line skate, glove, stick hockey dan helm saja kurang lebih dibutuhkan 300 US dollar dan barang-barangnya harus beli di luar negeri, belum lagi perlengkapan lain seperti seragam dan berbagai alat pelindungnya,” ujar Irvan Diary, pelatih dari klub In Line Hockey Batavia Demons. Kendala lain yang mereka rasakan adalah kurangnya perhatian dari pengurus cabang olahraga induk pada mereka sehingga gaung In Line Hockey belum bergema ke seluruh Indonesia.

Saat ini lapangan yang sering dipakai mereka untuk berlatih bertempat di gedung bekas supermarket Golden Trully di bilangan Blok M, Jakarta Selatan. “Saya salut sama anak-anak di sini yang terus memainkan In Line Skate demi tercapainya cita-cita mereka akan mewabahnya olahraga ini. Untuk membuat olahraga ini kembali booming memang diperlukan konsistensi,” tambah Odi.

Untuk kebugaran, jelas In Line Hockey diyakini para penggiatnya sebagai salah satu cara tercepat menurunkan berat badan. “Bermain olahraga ini selama 30 menit saja bisa membakar hingga 900 kalori. Perhatikan juga atlet-atlet sepatu roda, ice hockey atau In Line Hockey, jarang ada yang berperut gendut. Ini dikarenakan gerakan dalam olahraga ini cukup menguras energi,” ujar Odi yang pernah menjadi pelatih nasional cabang sepatu roda.

Beberapa klub In Line Hockey yang masih aktif menularkan wabah olahraga ini antara lain Batavia Demons, Wild Panther, Flaming Nitro dan B-Blades dari Bandung. Di awal boomingnya bahkan beberapa kota lain di Indonesia juga sempat mempunyai klub In Line Hockey. Batavia Demons sendiri sampai mempunyai angggota junior yang terbagi dalam dua tim dan selalu aktif mengikuti berbagai kejuaraan di dalam dan luar negeri. “Kita pernah latih tanding lawan klub dari Vancouver, Kanada kemudian juga diundang mengikuti turnamen di Singapura,” ujar Irvan menambahkan.

Ekspektasi besar mereka akan kembalinya kejayaan In Line Hockey di Indonesia tentu tidak bisa dianggap remeh. Meski kendala mengadang tapi semangat mereka untuk kembali menggelorakan olahraga ini patut diacungi jempol. Bagaimana perhatian dari para pengurus induk olahraga terkait? (yuk)

Comments on: "In Line Hockey — Rollin Your Adrenalin —" (1)

  1. pengen coba roller hcockey nihh..
    soalnya aku penggemar ice hockey..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: