talking, laughing, posting, sharing …

Sejarah Islam di China

Agama Islam memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi perkembangan sosio kultural di Negeri Tirai Bambu

===

Agama sebagai instrumen penting dalam kebudayaan manusia memegang peran sentral menjaga kelanggengan hidup umat manusia. Meski pada kenyataannya kita mencatat berbagai benturan dan peperangan atas nama agama, namun agama membuktikan diri mampu menjadi pemulih dari luka-luka traumatis suatu peradaban akibat hal tersebut. Kemajuan teknologi informasi dan semakin tingginya peradaban membawa agama menjadi titik sakral yang dijadikan sanctuary alias tempat berlindung oleh manusia yang terlalu “lelah” menghadapi persoalan hidup. Sejak lahirnya Islam sampai sekarang, terbukti agama ini mampu diterima oleh masyarakat dunia dan hidup damai berdampingan dengan keyakinan lain.

Seperti juga di belahan bumi lainnya, masyarakat Asia menjadi tujuan bagi persebaran agama-agama besar seperti Kristen dan Islam. Ini tidak lepas dari sumber daya alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang. Diawali dengan transaksi perdagangan maka tersebarlah agama-agama itu ke seluruh penjuru bumi termasuk Islam. Uniknya, proses adaptasi masyarakat sekitar pada Islam dang pengaruh yang dibawanya terbilang mulus. Hasilnya, para kalifah tidak hanya diterima hidup di negara perantauan mereka tetapi juga diizinkan menyebarkan ajaran agama rahamatan lil alamin ini.

Di daratan China, Islam menancapkan pengaruhnya sejak abad ketujuh. Masuknya Islam ke China sekitar tahun 651 saat Dinasti Tang yang dipimpin oleh Emperor Gaozong berkuasa. Adalah kalifah Saad Ibnu Abi Waqqas yang pertama kali menjejakkan kaki di China dan memperkenalkan Islam kepada Emperor Gaozong.

inilah bangunan masjid Xi An yang terkenal itu

Kedatangannya ini mendapat respon baik oleh sang penguasa, meski gagal mengajak Gaozong memeluk Islam tapi kehadiran sang khalifah membuka pintu penting bagi perkembangan agama ini di China. Emperor mengizinkan pendirian masjid pertama dan diberi nama Masjid Agung Xian yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Ornamen dan gaya bangunan masjid ini jelas terpengaruh kebudayaan lokal. Sama sekali tidak terlihat bahwa bangunan yang dibangun era Dinasti Tang ini adalah sebuah masjid. Saat kita melangkahkan kaki ke dalam pelataran barulah terlihat kaligrafi huruf Arab di bagian pintunya. Hal ini menandakan percampuran budaya yang pluralis menjadi salah satu ciri persebaran Islam di China.

Salah satu masjid yang juga dikenal dengan ornamen lokal yang kental adalah Masjid Niujie. Ciri khas masjid dengan kubah besar dan nuansa warna putih tidak tampak dalam bangunan masjid ini. Sebaliknya, yang tampak adalah ornamen khas masyarakat China dengan dominasi merah dan kuning. Bangunan masjid sendiri lebih menyerupai klenteng sebagai tempat sembahyang warga lokal. Bahkan kalau sepintas diperhatikan masjid ini seperti bangunan benteng yang banyak tersebar di berbagai propinsi di sana.

Masjid lain yang tidak kalah sensasional adalah Masjid Huaisheng di propinsi Guangzhou. Bangunan ini bahkan dijadikan cagar budaya karena menjadi warisan penting bagi perkembangan agama Islam di sana. Usia masjid ini sekitr 1.300 tahun alias dibangun saat awal masuknya Islam ke China. Bangunannya menyerupai asrama dan padepokan kungfu yang sering kita lihat dalam film di televisi. Masjid ini sempat dipugar tahun 1350 dan 1695 karena sebagian bangunannya terbakar.

China juga memiliki beberapa masjid historikal lain seperti Masjid Gucheng di propinsi Yunan dan Masjid Najiaying yang sangat megah. Kemudian Kowloon Islamic Center yang modern menjadi penanda suburnya perkembangan Islam di sana. Bangunan tiga lantai itu mampu menampung semua informasi dan sejarah perkembangan muslim di China lengkap dengan literatur dan sumber-sumber lain pendukungnya. Percampuran budaya lokal dan budaya khas Islam mulai diterima masyarakat dengan membentuk komunitas muslim di berbagai tempat. Umat muslim tidak menutup diri melainkan tinggal berbaur dan mengusahakan berbagai macam industri. Salah satu perkampungan muslim terkenal di sana adalah terletak di propinsi Yunan dengan daerah bernama Njiaying, Gucheng dan Sanjiacun.

Penduduk muslim di sana bahkan dikenal karena kelihaiannya berdagang dan membuka usaha kecil yang menggerakkan roda perekonomian setempat. Kampung Najiaying merupakan kampung Islam yang terbesar di Yunan, terdapat lebih dari seribu jiwa keluarga Islam tinggal secara berkelompok di kampung itu. Pakar bahasa Arab yang terkenal di China, Na Xun dan Na Zhong berasal dari kampung itu. Kawasan itu berdekatan dengan gunung dan sungai serta tanah pertanian di sana termasuk subur. Berdasarkan catatan sejarah, pada tahun 1261 Masehi sejumlah besar pandai besi dan pengusaha logam dari Asia Tengah hijrah ke kawasan itu dan bertugas sebagai pembuat senjata untuk tentara. Sampai sekarang para pengrajin logam dari daerah ini masih amat terkenal di China, pisau dan senapan berburu yang dihasilkan oleh mereka dipakai di seluruh China.

Ekonomi masyarakat di Yunan terbilang maju, setidaknya terdapat lebih 300 buah perusahaan metalurgi di kawasan itu. Baragam kerajinan logam yang dihasilkan dari kawasan itu pada akhirnya dijual ke seluruh China dan dieksport ke luar negeri.

Sementara itu di daerah Xinjiang, umat muslim membangun masjid yang diberi nama Masjid Id Kah. Masjid terbesar di wilayah China dengan kemampuan menampung sekitar 10 ribu orang beribadah di sana. Perpaduan gaya arsitektural lokal dan Islam kembali terlihat. Di masjid ini kita bisa menyaksikan kubah putih yang dikelilingi oleh tembok tinggi besar berwarna kuning keemasan.

salah satu bangunan masjid id China

Sampai sekarang beberapa bangunan masjid di sana seakan menjadi saksi bisu dari percampuran budaya Timur dan Arab. Meski dalam perjalannya Islam di China juga kerap mengalami kekerasan antar etnis hingga tekanan pemerintah, tapi tidak menyurutkan syiar komunitas muslim lokal berhenti. Sejumlah tokoh dan budayawan muslim dari China lahir diantaranya Lan Yu, Liu Zhi, Zheng He, Ma Bhufang, Yusuf Ma Dexin dan Noor Deen Mi Guangjiang. Mereka menjadi actor penting yang mewarnai proses sosio kultural masyarakat China dan mengambil bagian yang tidak bisa dihilangkan dalam sejarah persebaran Islam di China. (yuk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: