talking, laughing, posting, sharing …

Inilah para raksasa dari Amerika Serikat

Diperkuat oleh deretan pemain terbaik di NBA, tim nasional AS tahun ini mengincar medali Emas di ajang Olimpiade Beijing 2008. Mereka siap mengalahkan ketakutannya sendiri dan menaklukan dunia.

Las Vegas. Saat itu musim panas tahun 2006, jam menunjukkan pukul 11 malam. Tim bola basket AS terlihat sedang bersantai dan menghabiskan malam. Mereka adalah pemain terbaik yang berkumpul namun bukan di dalam lapangan. Bukan juga dalam sebuah pertandingan liga. Mereka berkumpul di salah satu kasino terbaik di hotel The Wynn. Mereka di sana berkumpul karena All Stars. Semua bintang NBA ada di sana. Katakan saja mereka sedang bergembira karena terpilih dalam perang bintang tersebut.

Oiya, mereka tidak sedang berjudi di sana. Semua hanya senang menghabiskan malam bersama-sama dalam suasana yang gembira. LeBron James dan Chris Paul tertawa kecil sambil menyaksikan sepasang kekasih yang sedang mengadu keberuntungan di meja Black Jack. Sementara tidak jauh diseberangnya tampak Dwyane Wade sedang asyik memperhatikan permainan dadu. Lalu Chris Bosh juga serius melihat beberapa meja judi yang  tersebar di seluruh ruangan.

Di pojok ruangan lainnya, tampak Carmelo Anthony mencoba peruntungannya di meja Black Jack. Hei, dia kalah di percobaan pertamanya! Dan sambil tertawa langsung pergi ngeloyor ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan pelatih kharismatik Mike Krzyewski tampak menikmati musik bersama istrinya. Sambil menikmati makan malam yang sangat larut di sana, ia berbincang serius dengan sang istri. Entah apa yang diobrolkan, mungkin mereka berbincang tentang rotasi pemain dan beberapa strategi serangan. Entahlah.

Sedikit kegembiraan ada untuk mereka malam itu. Dua tahun sebelumnya, tim AS meninggalkan lapangan Olimpiade Athena 2004 dengan kepala tertunduk. Mereka keluar dari hotel lewat pintu belakang. “Sebuah bencana,” demikian ulas ESPN. Kalungan medali Perunggu di leher mereka. Saat harapan terbesar rakyat AS ada di depan mata, mereka justru gagal menggapainya. Sebuah pencapaian yang tidak baik bagi bola basket AS. Olaharaga ini demikian populer di AS, digandrungi hampir semua lapisan dan menyebar cepat ke seluruh dunia seperti Global Warming. Berbeda dengan baseball dan football yang perlu waktu memperoleh kepercayaan dan atensi publik, bola basket tidak perlu waktu lama untuk menancapkan pengaruhnya bahkan ke seluruh belahan dunia.

Tahun 1992 menjadi sejarah dan kenangan manis bagi AS. Dipenuhi hampir semua pemain terbaik yang terlihat seperti sebuah tim dalam permainan video game, tim AS tidak perlu mengalami kesulitan mencapai final dan memboyong medali Emas. Sementara lawan-lawan mereka sibuk berlatih dan berfoto bersama fans, The Dream Team lenggang kangkung dan meraih semua popularitas dalam sejarah olahraga ini di lapangan Olimpiade.

Sesuai jalurnya, hal seperti itu memang seharusnya terjadi. Supremasi tertinggi bola basket sudah saatnya kembali ke AS. Catat, sejak Olimpiade 1936 sampai 1968, tim AS tidak pernah sekalipun kehilangan medali Emas! Bahkan mereka tidak pernah kalah dalam satu kali saja penampilannya di sana! Mereka bahkan sempat mencukur Uni Soviet 63-0 untuk akhirnya kalah dalam salah satu partai terkonyol dalam sejarah basket Olimpiade di Munich tahun 1972. Penampilan terbaik mereka segera kembali empat tahun berikutnya dengan menggondol semua medali Emas dalam Olimpiade yang diikutinya. Hingga tahun 1988 di Seoul, Korea Selatan saat dilatih oleh John Thompson mereka menempati peringkat tiga setelah kalah lagi-lagi dari Uni Soviet di semifinal. Padahal Dan Majerle menjadi pencetak angka terbanyak saat itu. Tragis!

Setahun berselang, FIBA sebagai induk organisasi olahraga ini di dunia merubah sedikit peraturannya dan membolehkan pemain liga profesional seperti NBA untuk ikut dalam Olimpiade. Bola basket AS pun berubah wajahnya dan menampakkan sinar terang dalam beberapa tahun ke depan. Bola basket AS pun tidak akan pernah sama lagi, baik atau buruk, tapi lebih banyak baiknya mereka menjadi kekuatan yang menakutkan di dunia.

Setelah medali Emas tahun 1992, semua tim di dunia seakan memandang AS sebagai negara yang harus diwaspadai. Semua ingin mengalahkan mereka. Membungkam mulut merreka dan mengirimnya pulang lebih awal. Dan hal itu hampir saja menjadi kenyataan di Kejuaraan Dunia tahun 1994 di Toronto. AS mengirimkan anak-anak muda yang berbakat, enerjik tapi masih terlalu muda dan silau oleh kilatan blitz! Tahu maksud saya kan?  Pemain seperti Derrick Coleman dan Shawn Kemp akan melakukan dunk dengan sekuat tenaga tanpa mempedulikan kombinasi serangan lain ke ring lawan. Mereka seakan ingin mengulangi kejayaan dari Dream Team di hadapan publik sendiri.

dua musuh bebuyutan AS vs China

Tahun 1996 Dream Team II mengulang sejarah di Atlanta dengan baik. Ada Pippen, Hakeem, Malone dan Barkley yang mengubah mereka menjadi tim terkuat. Mereka kembali mengulangnya di Sydney tahun 2000, meski nyaris kalah dari Lithuania di semifinal. Setelah itu mereka masih beberapa kali mengukir prestasi termasuk dunk sensasional Vince Carter saat mengangkangi Freddy Weis dan mencatatnya dalam sejarah seni dunk kontemporer. Itulah masterpiece karya maestro dunk Vince Carter yang akan selalu kita kenang dengan senyuman.

Namun kini semua warga AS seakan tidak peduli dengan tim ini. Jika kalah, maka cacian datang bertubi-tubi. Kalau berhasil, nyaris tanpa pujian. Apa yang terjadi? Apakah orang-orang ini hanya melihat hasil semata? Atau kita mulai kehilangan dukungan mereka? Masalahnya bukan di sana. Perhatikan, saat ini seluruh dunia sudah mengetahui sepak terjang AS dan NBA nya. Sementara NBA harus membuka diri dengan globalisasi dan mengirimkan pertandingan-pertandingan mereka melalui internet dan satelit maka mata semua orang di berbagai belahan dunia segera terbuka. Persaingan menjadi lebih sengit karena olahraga ini dipelajari oleh banyak sekali orang.

Tanyakan pada pemain dunia seperti Yao Ming dan Dirk Nowitzki tentang bagaimana mereka mengetahui NBA. Mereka akan segera menjawabnya dengan satu jawaban, TV. Yao mempraktekan apa yang dilihatnya di lapangan. Kau boleh sebut baseball sebagai olahraga asli AS tapi David Stern telah membuat NBA menjadi olahraga dunia. “Aku ingat dulu bagaimana menyaksikan Michael Jordan bermain. Kami pergi ke rumah seorang teman yang mempunyai TV kabel dan kami menontonnya beramai-ramai. Aku ingat bagaimana terkagum-kagumnya dengan apa saja yang dia lakukan,” ujar Nene, forward Denver Nuggets yang besar di kota Sao Paolo, Brasil.

Bertahun-tahun basket internasional dikritik karena permainannya yang membosankan. Tapi kini secara tiba-tiba semua dunia mahir memainkan basket. Anak-anak kecil di semua negara bermimpi bisa bermain di NBA, mencoba beradu skill dengan orang-orang AS dan akhirnya bercita-cita mengalahkan mereka di sana. Sekarang sebutkan nama-nama ini dengan keras. Dirk, Yao, Tony, Pau, Manu, siapa lagi? Merekalah putra-putra perantau yang meraih popularitas di lapangan kita. Namun jangan salah, bakat dan kerja keras mereka memang cukup adil membawa namanya ada di benak kita.

Kenyataan yang terjadi di tahun 2004. Tim yang diasuh Larry Brown itu harus puas dengan Perunggu dan mati-matian melawan Spanyol. Bintang-bintang seperti King James, Melo dan Wade harus puas di bangku cadangan. Faktanya memang, olahraga ini bukan lagi milik AS. Kita harus menerima kenyataan bahwa semua orang bermain basket sekarang. Kita bukan lagi pemimpin di lapangan ini.

Masuklah nama Jerry Colangelo. April 2005 ia merubah kultur basket kita. Bersama Mike Krzyzewski sebagai pelatih utama ia mempertahankan hanya 2 nama yang memperkuat tim AS di tahun sebelumnya. Mereka memberikan keterangan bahwa bermain untuk tim nasional AS adalah sebuah kebanggaan, So, mereka menginginkan sebuah komitmen jangka panjang bagi setiap pemain yang ingin tampil di tim. Setidaknya dibutuhkan kontrak tiga tahun yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun.

rise up for Kobe

Sikap ini diterima semua pihak dengn lapang dada. Pembaruan terjadi di tim dan semua orang bersemangat untuk bisa memberikan yang terbaik bagi Paman Sam. Generasi muda AS kini lebih tahu bagaimana seharusnya bermain di level internasional dan menghargai tradisi mereka. Chris Paul mengatakan kepadaku bahwa dirinya sempat meneteskan air mata dan hatinya bergetar saat pertama kali mengenakan seragam nasional dan mendengarkan seisi arena meneriakan yel-yel, “USA! USA! USA!”

Dwight Howard bahkan mengaku tidak bisa tenang saat pertama kali berseragam Merah, Putih, Biru. Ia menggantung seragamnya dan berlari-lari di kamar hotel untuk mengurangi rasa gugup. “Kau mewakili negaramu. Saat kau mengenakan seragam ini, tidak peduli apakah kau seorang Celtics atau Lakers, kau bermain untuk negaramu. Saat di lapangan kau hanya tinggal bertarung sekuat tenaga!” ujar Kobe Bryant.

Dan saat mereka berkumpul di Vegas untuk pelatnas, Coach K memulai menunya dengan rotasi antar pemain, pertahanan man to man dan pergerakan bola. Setelah beberapa minggu berlatih, hasilnya mulai tampak saat pergi ke Jepang untuk Kejuaraan Dunia dan lagi-lagi harus puas dengan medali Perunggu setelah susah payah mengalahkan Yunani di semifinal. Hasil tidak masalah bagi coach saat itu. Mereka kembali ke klub, berlatih dan tim nasional membuat program berikutnya. “Tidak sulit untuk menikmati permainan bersama orang berbakat terbaik di sini. Kami bercanda, tertawa dan menikmati hari bersama. Tim ini sungguh hebat dan kami bekerja keras di sana,” ujar LeBron.

Setahun setelah Jepang, musim panas 2007 coach K kembali bersama anak asuhnya di Las Vegas untuk kejuaraan Pan Amerika. Mereka menemukan bentuk permainan terbaiknya dan mengalahkan lawan untuk meraih medali Emas. Memang mereka tidak mengalahkan banyak lawan dari berbagai penjuru dunia, mereka hanya berkompetisi sesama benua Amerika, tapi permainan mereka sungguh berbeda. “Tidak ada yang pernah melupakan Dream Team dengan MJ, Magic dan Bird. Tapi aku sangat menyukai tim ini karena mereka punya pemain lain yang luar biasa dalam diri LeBron, Kobe dan lainnya. Mereka tahu bagaimana caranya bermain sebagai sebuah tim, punya kerjasama yang solid dan bertahan luar biasa,” puji pelatih Argentina Sergio Hernandez.

Segalanya berubah. Kini atmosfir optimis memenuhi seluruh dada pemain AS. “Aku bosan medali Perunggu, Man. Serius, aku bosan! Aku tidak bisa berkata-kata sekarang. Inilah kali pertama aku mendapat Emas. Aku akan menggantung medali ini di rumahku, mungkin di depan pintu sehingga semua bisa melihatnya dengan jelas,” ujar Melo. Kebanggaan juga diungkapkan pemain senior Jason Kidd. “Kami belajar dari kesalahan kami di masa lalu. Kami punya komitmen kuat dalam diri masing-massing untuk menghargai kerja keras semua pihak. Jika kau punya orang seperti LeBron, Kobe dan Melo maka kau akan merasa bahwa anak-anak ini punya keteguhan hati. Kami berencana untuk memenangkan sesuatu musim panas ini di Beijing.”

Dengan deretan bintang terbaik di lapangan NBA memang susah untuk mengumpulkannya di lapangan tanpa membawa ego masing-masing. “ Hal terbaik yang aku pelajari di tim ini adalah bagaimana setiap pemain meninggalkan egonya dan melemparnya jauh ke luar jendela. Kita semua tahu bahwa orang seperti Kobe memimpin liga dengan perolehan skor yang tingi setiap tahunnya, namun di sini ia memberikannya pada Melo. Aku pikir banyak dari kami yang telah meninggalkan egonya di rumah dan bersatu untuk tim dan memenangkan medali Emas, kami mampu untuk itu,” ujar LeBron. 

Satu hal, saat ini semua mata akan memberikan dukungan ke AS. Mengembalikan sejarah Emas ke AS memang harus dilakukan mereka saat ini atau tidak sama sekali. Jika mereka paham apa yang dimaksud dengan sejarah, maka saatnyalah sekarang untuk membuatnya. Seperti kata LeBron, membuang semua ego untuk bersatu membawa kemenangan jauh labih penting dari sekedar mencetak 40 poin di sana. “Hal yang aku ingat adalah kami belajar dan bekerja keras di sana. Apa kami layak mendapat juara? Aku rasa iya, sekarang saatnya.” Kobe pun mantap berkata seperti itu. Bagaimana Anda warga AS? Apakah dukungan itu diberikan sekarang? (yuk)

KUTIPAN-KUTIPAN

“Hal terbaik yang aku pelajari di tim ini adalah bagaimana setiap pemain meninggalkan egonya. Banyak dari kami yang telah meninggalkan egonya di rumah dan bersatu untuk tim dan memenangkan medali Emas, kami mampu untuk itu.” — LeBron  

“Kau mewakili negaramu. Saat kau mengenakan seragam ini, tidak peduli apakah kau seorang Celtics atau Lakers, kau bermain untuk negaramu. Saat di lapangan kau hanya tinggal bertarung sekuat tenaga.”— Kobe

“Tidak sulit untuk menikmati permainan bersama orang berbakat terbaik di sini. Kami bercanda, tertawa dan menikmati hari bersama. Tim ini sungguh hebat dan kami bekerja keras di sana.”—Lebron

“Tidak ada yang pernah melupakan Dream Team dengan MJ, Magic dan Bird. Tapi aku sangat menyukai tim ini karena mereka punya pemain lain yang luar biasa dalam diri LeBron, Kobe dan lainnya.” —Sergio Hernandez    

 (diterbitkan di majalah SLAM Indonesia tahun 2008 lalu…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: