talking, laughing, posting, sharing …

Vaya Con Dios Bob ..

Lagu Vaya con dios melantun merdu dari mulut Pak Bob. Menjelang tutupnya Koran Jakarta, kami memang lebih sering nyanyi, bahkan “nanggep” organ tunggal dan makan bebek. Suasana seakan ceria kalau Pak Bob datang ke kantor dan menghibur para anak buahnya dengan lagu atau sekedar mentreat makan malam…

====

Sosok Bob Halomoan Hutabarat di mata saya adalah pribadi yang menyenangkan. Biasa bernyanyi dan bersiul-siul, melontarkan jokes-jokes penyegar suasana, kalaupun marah beliau jarang secara frontal menghardik, paling hanya memanggil nama dengan intonasi sedikit keras dan rona kusut menghiasi wajahnya. Ya, itulah Bob Hutabarat di mata saya.

Pertemuan pertama dengan beliau, saya masih ingat, mungkin sekitar lima tahun yang lalu, di gedung pariwisata JIH lantai tiga, kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Pak Bob -demikian saya memanggilnya- mengawaki Harian Jakarta yang nyaris kolaps. Tugasnya berat, namun toh ia terima juga tantangan itu.

Seiring berjalannya waktu, harian itu pun benar-benar macet. Pak Bob sempat mengajak seluruh karyawan khususnya jajaran redaksi yang masih tersisa untuk bertahan dan membenahi media ini. Ia menawarkan villa di daerah puncak sebagai tempat kita merefresh kembali visi dan misi serta merapatkan barisan untuk mempertahankan media yang kita cintai itu. Angin segar berembus, sepulang dari puncak, manajemen menelpon dan meminta rapat guna menindak lanjuti tuntutan karyawan untuk tidak menutup harian Jakarta. Rapat yang lebih mirip ceramah -orasi- dari seorang petinggi di jajaran manajemen itu berakhir dengan keputusan menerbitkan kembali harian ini dan berganti nama menjadi Koran Jakarta.

Namun sayang, media yang baru seumur jagung itupun kembali tiarap. Manajemen memutuskan untuk “membiarkan” nasibnya terkatung-katung tanpa mengambil keputusan yang jelas. Raut kesedihan tampak di wajah Pak Bob, setiap sore dia duduk di teras depan kantor, memandang jauh ke arah pelataran parkir sambil sesekali menghisap rokok dari pipa kesayangannya. Ia juga selalu mencoba tersenyum saat melihat “anak-anaknya” yang sedang sibuk menyusun berita, meski kami tahu senyumnya hanya obat untuk menjawab pertanyaan di benak para anak buahnya, “Apakah besok koran akan terbit?”…

“Ya, kita tetap terbit!” Itu jawaban singkat yang beliau sering ucapkan. Entah bagaimana dan dengan cara apa, maka keesokan harinya di ruangan redaksi masih terdapat onggokan Koran Jakarta hasil kerja keras mereka di hari sebelumnya.

====

Kini Bob Halomoan Hutabarat telah tiada. menyisakan kenang-kenangan bagi orang-orang yang pernah dekat dengan almarhum. Baik mereka yang berkawan sebentar atau lama dengan almarhum, semua pasti merasa kehilangan.

Sebagai wartawan senior, namanya dikenal luas sebagai penulis feature di Kompas. Saya ingat ketika suatu sore kami berbincang sambil melepas penat. “Pak, ceritakan awal karir di media dong!” pinta saya membuka percakapan. Beliau pun hanya terkekeh sambil mengusap-usap perut buncitnya. Setelah beberapa hisapan rokok, ia mulai bertutur soal permulaan karirnya di dunia media massa.

“Suatu hari kudengar ada seminar jurnalistik di Medan. Aku datang ke hotel itu. Kucari dikamar mana Jakob Oetama menginap. Kuberanikan diri ke sana dan aku ketok pintu kamarnya. Setelah dia membuka pintu, kuperkenalkan namaku. Saya Bob Hutabarat, berniat melamar sebagai wartawan di media Bapak! Singkat saja kataku saat itu, namun hal itu ternyata diingat Pak Jakob dan mulailah saya bekerja sebagai koresponden di sana,” ujar Pak Bob sore itu.

Kegemarannya menulis feature diakui karena lebih bebas berekspresi daripada menulis berita model straight news. “Dia yang menangis di sela-sela pohon karet! Itu judul features saya yang menang penghargaan di Jakarta. Waktu itu kalau ga salah dapat uang sejuta. Bah, besar kali itu. Ongkos Medan – Jakarta saja masih hitungan ratus rupiah,” ujar Pak Bob tentang karya tulisnya itu.

Saya selalu senang mendengar kisah sukses dari para senior, orang tua atau siapapun juga. Buat saya, mendengarkan cerita mereka seperti mengambil pengalaman berharga dan menjadi motivasi tersendiri saat mendengar bagaimana awal karir mereka hingga meretas sukses. Demikian juga dengan kisah Pak Bob, meski kami tidak terlampau sering berbincang-bincang, tapi kedekatan emosional kami terpatri kuat di hari-hari terakhir kolapsnya Koran Jakarta (2005).

“Selamat sore semuanya. Dalam rapat ini, saya sekaligus mengajukan permohonan untuk undur diri,” itulah kata-kata yang terucap dari bibir saya dalam rapat budgeting redaksi sore di hadapan kawan-kawan redaktur dan Pak Bob sebagai Pemred kami. Sambil mengusap perutnya, Pak Bob hanya berteriak, “Aaah.. Yuuuuk….!!! Adoooh…” itu saja yang keluar dari mulutnya sambil wajahnya tertunduk lesu. Dia menyayangkan keputusan saya yang mundur dari Koran Jakarta untuk memulai karir di media lain. Namun di satu sisi ia juga tidak kuasa menahan kepergian saya karena nasib mereka di Koran Jakarta pun belum jelas. Di akhir rapat, Pak Bob hanya tersenyum kecut. “Yah, pergilah. Semoga sukses di sana kau yah.” kalimat itulah yang masih terngiang-ngiang di telinga saya sampai kini.

Saat itu memang kondisi sangat tidak menentu, kami yang bertahan hanya berharap pihak manajemen berubah sikap dan menerbitkan kembali Koran Jakarta. Nyatanya, nihil.. Media itu benar-benar kolaps beberapa waktu kemudian!

Satu hal yang juga membekas kuat di ingatan saya tentang almarhum. Suatu malam, kami sedang deadline. Di tengah penat dan lapar karena belum sempat makan malam, Pak Bob menghampiri saya. “Kau mau makan ayam taliwang tidak?” Saya kaget dan tersenyum, “Mau dong pak!” Tidak lama dia keluar memaggil OB dan menyuruh membelikan beberapa porsi makanan itu untuk mereka yang sedang deadline. Selepas deadline, barulah kami bersama-sama menyantap ayam tersebut. Buat saya, bentuk perhatian Pak Bob memang spontanitas, namun itu menunjukkan bahwa dia sosok orang yang peduli pada sesamanya.

Saya bersyukur pernah bekerja di Harian Jakarta – Koran Jakarta. Saya bersyukur, karena di tempat itulah kami bertemu dengan banyak orang hebat. Para senior di bidang jurnalistik, para pendobrak opini publik dan pewarta kebenaran yang sesungguhnya. Saya bersyukur bisa jumpa dengan Bob Hutabarat, meski hanya sebentar saja. Pertemuan yang sebentar itulah yang membekas dalam ingatan saya sampai sekarang.

Vaya con dios Bob Hutabarat ..

Comments on: "Vaya Con Dios Bob .." (3)

  1. hm.. baru lagi ya pak templatenya..? good good… lebih colorfull.
    akhirnya ada juga tulisan curhat & review orang lain..
    kapan gua direview.

    ehm ehm.. ini perusahaan tempat lu dan istri lu ketemu kannn?😀

    • cengrenges said:

      hehehe.. review dirimu?? bailah, nanti aku mampi-mampir ke “rumah” mu ya bu !! slamat hari senin ..

  2. Subhannallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: