talking, laughing, posting, sharing …

Dulu, sewaktu masih kecil, saya selalu berpikir tentang impian saya. Menjadi seorang pilot pesawat tempur, berperang melawan pesawat-pesawat musuh dan menang sehingga saya menjadi pahlawan bagi negara saya. Di mata saya dulu, sosok pilot pesawat tempur adalah sosok yang bagai dewa. Gagah, brilian sekaligus patriot bangsa. Rasanya bangga sekali kalau sudah memakai baju terbang dan menaiki tangga pesawat F-16 untuk kemudian saling tembak di udara dan menang!

Itu dulu. Maklum deh, namanya juga masih bocah, apalagi hidup di tengah gerusan film-film era Pasca Perang Dingin yang mengetengahkan aksi jagoan-jagoan, kecanggihan alat-alat perang sampai sosok pahlawan yang berperang sendirian membasmi musuh.

Beranjak besar, paradigma saya akan cita-cita bergeser. Ingin keliling dunia, jadi duta besar keliling (tukang obat juga keliling ya?) dan menjadi diplomat ulung. Sepertinya asik sekali kerjanya diplomat itu, tidak usah pusing mikirin gaji, hidup terjamin di negeri orang, berbagai fasilitas dan kekebalan diplomatik melindungi daaaan kerjanya ga jelas! Mantep kan? Buat saya waktu itu, jenis pekerjaan ini sangat mengasyikkan. Tidak perlu berpanasan membanting tulang, tidak perlu repot adu otot tapi hidup gemah ripah loh jinawi. Yah, kalau buat makan aja sih ga usah bingung. Mo jalan-jalan ada banyak kesempatan, apalagi mereka sekalian tugas juga jalan-jalan. Mantep deh!

Akhirnya gambaran dan cita-cita itu pupus sendiri. Saya melihat banyak hal lain yang menarik dan membuat saya lupa pada semua impian dan cita-cita masa kecil tersebut. Ketika akhirnya Tuhan mempercayakan sebuah keluarga kepada saya, inilah kebahagiaan yang lebih besar daripada mengejar cita-cita saya dulu. Keluarga yang saya bentuk, dengan kerja dan peluh, asa dan berbagai rasa lainnya, ternyata menyadarkan saya akan satu hal. Keluarga adalah rahmat dari Allah.

Kenapa demikian? Ya, saya melihat banyak keluarga yang menjadi berkah dengan kehidupan mereka. Berkah untuk orang di sekitarnya, berkah untuk anggota keluarganya, teman-temannya, sanak saudara dan sebagainya. Namun ada juga yang menjadi sorotan tetangga karena satu dan lain hal. Ada yang menjadi sorotan media massa karena satu dan  lain hal, ada juga yang disorot terus menerus oleh keluarganya karena dianggap punya kekurangan ini dan itu. Banyaklah pokoknya.

Nah, saya merasa bahwa keluarga menjadi muara dari banyak hal. Hal baik dan buruk, putih atau hitam, dan sebagainya. Jadi ketika kita menerima rahmat bernama keluarga itu,  maka sudah sewajarnya kita mensyukuri dan memelihara rahmat yang bernama keluarga. Menjaganya agar tetap menjadi berkat, setidaknya untuk orang terdekat atau anggota keluarga itu sendiri.

Impian dan cita-cita saya kini adalah keluarga. Tidak perlu muluk memang. Sebuah keluarga yang sewajarnya. Hidup damai, berdampingan dengan anggota masyarakat lainnya. Membangun masa depan yang baik untuk anak-anak kami. Dan terutama membangun moral yang baik untuk masyarakat di sekitarnya.

Tidak ada lagi diplomat, pilot atau superhero di mata saya. Masa depan yang terbayang di benak saya adalah sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Tidak muluk-muluk kan??

Curhat Colongan – Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: