talking, laughing, posting, sharing …

Belajar dari Cinta

Saya mungkin orang yang tidak percaya anggapan bahawa cinta itu buta. Bagi saya cinta tidak buta! Bahkan cinta bisa memilih!

Pendapat ini didebat habis oleh istri saya. Dia salah satu orang yang percaya bahwa kekuatan cinta dapat membuat manusia melakukan segalanya! Dia juga percaya bahwa cinta tidak bisa memilih, karena cinta seperti takdir🙂

Namun akhirnya kami sepakat, perbedaan pendapat inilah yang ahirnya menyatukan kami. Dalam perasaan sayang, perasaan kasih dan hingga sekarang melakoni kehidupan berumah tangga.

Bicara soal perbedaan, saya dan istri kebetulan berasal dari dua suku yang berbeda. Perkawinan campur antara Jawa melawan Batak ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah keluarga saya. Sementara di keluarga besar pihak istri, perkawinan campur lintas Sumatra ini🙂 setidaknya sudah kali kedua terjadi. Namun demikian, keunikan dan penyatuan silang pendapat saat jelang pernikahan kami menjadi cerita yang kan kami kenang sampai selamanya.

Kami merasakan bahwa perbedaan suku ini bukan penghalang untuk kami saling mencintai. Ini justru menjadi semacam trigger bagi kami untuk membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan perkawinan beda adat ini. Meski awalnya mendapat kritikan dari keluarga besar kami, namun toh akhirnya pernikahan ini tetap bisa berjalan. Kami semakin berpegangan tangan dan mencoba memahami setiap kritik yang diberikan dan untuk kemudian mengambil solusi terbaik dari permasalahan yang ada.

Cinta mengajarkan saya satu hal. Bahwa cinta punya kekuatan yang dapat membuat kita memahami dan mengerti orang lain. Cinta akan membuat kita paham sudut pandang orang lain sehingga kita tidak mengukur sesama kita dengan sudut pandang kita yang sempit. Intinya, cinta tidak memberi ruang untuk kita menumbuhkan kebencian, kesalah pahaman, kemarahan dan hal negatif lainnya. Cinta justru memberi kita ruang untuk menjadi orang yang menyenangkan di mata sesama kita.

Saya beruntung hidup di negara Indonesia. Dengan beragam suku, bahasa, adat dan istiadatnya, mengajarkan the beauty of diversity alias indahnya keragaman pada saya sejak usia dini. Saya akui, pelajaran SD dan SMP dahulu tentang Pendidikan Moral Pancasila mengakar kuat dalam diri saya. Teringat betul kisah-kisah gotong royong di dalam buku cetak PMP yang menggambarkan pola hidup bangsa kita sejak zaman nenek moyang yang selalu dilandasi dengan musyawarah dan gotong royong.

Hingga tidak jarang bila bangsa ini dijuluki bangsa yang ramah, bangsa yang penuh senyum dan membuat nama Indonesia dikenal di kalangan wisatawan mancanegara.

love is strong🙂

Oleh karena itu, saya cukup sedih ketika banyak kejadian yang menciderai ketentraman hidup berbangsa dan bernegara. Ketika banyak aksi dan kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah di Indonesia dan mengakibatkan korban harta dan jiwa. Pertikaian terkait politik daerah, kekerasan antar suku, keyakinan sampai adu domba yang merugikan rakyat semua. Lalu apa hasilnya?

Menjadi refleksi saya, kenapa bangsa ini menjadi mudah tersulut amarahnya? Kemanakah rasa cinta tanah air, sebangsa senusantara, tepa selira dan kekeluargaan yang dahulu kental bertumbuh di masyarakat kita? Kemana hilangnya azas-azas Pancasila yang demikian indahnya memayungi kehidupan bernegara kita?

Kehidupan yang dahulu tenteram, damai dan penuh senyum seakan hilang berganti dengan wajah seram, dahi berkerut dan mudah tersinggung! Ada apa dengan Indonesiaku?

Mari kita merenung sejenak. Adakah cinta di hati kita. Adakah kasih di hati kita? Mulailah dari keluarga anda. Kasihilah anggota keluarga kalian dengan tulus. Benahi apa yang kurang dan bagilah cinta di tengah-tengah kaluarga. Semailah perasaan salaing menghormati, saling menolong dan tenggang rasa diantara mereka. Jadikanlah anak-anak kita sebagai pribadi yang penuh kasih dan berkarakter penolong.

Sayapun tidak sempurna. Kadang saya juga merasa kehilangan kasih dalam diri saya. Kadang saya juga merasa kehabisan kasih dalam hati saya. Tapi saya belajar untuk terus mengisi kembali kasih itu dengan belajar mengasihi sesama saya, terkhusus keluarga yang telah Tuhan berikan pada saya. Saya belajar mengasihi dengan mempraktekan kasih itu sendiri. Larning by doing. Tidak mudah memang, tetapi disanalah komitmen dan kedewasaan kita dituntut tampil matang.

Yuk, kita belajar dari hal kecil yang namanya cinta. Ternyata memang benar, cinta itu tidak lemah. Dia punya kekuatan besar yang mampu merubah wajah setiap orang yang mengenalnya. Merubah karakter setiap orang yang memahaminya. dan pada akhirnya merubah citra suatu bangsa yang mengagungkannya.

Belajarlah dari cinta …

Comments on: "Belajar dari Cinta" (4)

  1. cinta……cinta………..,,suddenly im fool…when met with love…i dunno how n why.because till now i still define alone =))

    heppi blogging yaah oom 8)

  2. “adakah cinta di hati kita. ” jawabnya: ada!🙂
    this is nice blog anyways.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: