talking, laughing, posting, sharing …

Hidup di Kampung

Macet memang sudah jadi “makanan khas” Ibukota. Semua warga yang tinggal dan bekerja di sini sudah hafal betul rasanya macet. Mulai macet akibat perbaikan jalan, macet akibat angkutan umum mogok atau ngetem seenak udelnya, macet akibat TL mati, macet akibat kecelakaan, akibat guyuran hujan dan banjir dan lain sebagainya.

Yes, macet memang jadi menu wajib bagi siapapun yang tinggal di Jakarta. Suka atau tidak suka, ya terima saja nasibmu!!

Tapi, melihat kemacetan Jakarta yang semakin hari semakin memburuk, sempat terbersit keinginan saya untuk segera hengkang dari Ibukota. Bukan apa-apa, hidup sepertinya menjadi tidak produktif dengan membuang waktu di jalan yang mengular antriannya. Jika jarak tempuh normal, dalam kondisi tanpa macet antara rumah dan kantor bisa ditempuh hanya dalam 45 menit. Maka dengan kondisi macet maka lamanya waktu tempuh akan menjadi dua kali lipat. Belum kalau hujan yang mengakibatkan genangan air dimana-mana, alhasil deh waktu tempuh lebih lama, bensin lebih boros dan emosi jadi naik turun karena “gerundeng” selama perjalanan. Canggihnya lagi, kejadian macet ini terjadi hampir setiap hari, saat berangkat kerja dan pulang kerja.

macet bikin mumet

Apa lacur? Pemerintah daerah terkesan tutup mata. Alasan klasik terkait anggaran perawatan jalan dan sebagainya dan sebagainya selalu dilontarkan untuk menjawab sumpah serapah publik yang memaki Mas Gubernur berkumis itu karena bosan dengan kemacetan Jakarta. Hal yang sama biasanya dilakukan korps Baju Cokelat. Mereka mengelak dengan alasan bertambahnya volume kendaraan khususnya roda dua mengakibatkan kemacetan di mana-mana. Lah, kok jadi publik yang disudutkan dengan pernyataan itu ya..???

Aniwei, kalau bicara kemacetan semua pihak saling tuding. Gak ada yang mau disalahkan, dan gak ada juga yang bersikap ksatria mengakui kesalahan plus tanggung jawab. Jadi, pilihan hengkang ke luar Ibukota tampaknya sangat menggiurkan. Perkara mo ngapain di luar kota, yah itu yang harus segera dipikirkan…

Yah, semoga saja impian pindah ke luar kota itu dapat segera terwujud … Sepertinya indah, membayangkan hidup dan bekerja tanpa disusahkan oleh macet. Hidup sederhana, bahagia karena orang daerah biasanya simpel, gak ada yang iri dan sirik kalau lihat tetangganya pakai mobil baru. Mereka juga tepa seliranya tinggi, sangat rukun meski sekampung banyak agama berbeda dan satu lagi, gotong royong tinggi antar warga yang sudah hilang di Jakarta. Ah, hidup di daerah sepertinya sangat menyenangkan. Semoga dengan hati dan pikiran yang lebih bahagia, umur bisa lebih panjang, sakit penyakit menjauh karena daerah menyediakan udara yang segar, minim polusi dan makanan yang serba alami dan segar🙂

Gusti Allah sumber rejeki, semoga saja ada kesempatan hamba untuk mencicipi indahnya hidup di kampung sana … Amiiin…

Comments on: "Hidup di Kampung" (2)

  1. Wah emang bener nih macet emang bikin stress. tiap pagi mau kerja atau malem mau pulang kerja selalu ngelewatin macet. hehehe

    ada artikel yang berhubungan nih. mampir kesini yah
    Penyebab Kemacetan di Jakarta

  2. cengrenges said:

    Mantep gan .. Sundul Gan ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: